Selasa, 07 April 2015

ANTARA CINTA dan SAHABAT
Oleh : Eka Octav

Hidup akan indah bila kita masih memiliki seseorang yang kita sayangi, seperti via, via masih memiliki orang tua yang sayang dengannya dan saudara laki-lakinya yang sangat menggemaskan yang masih kelas 4 SD. Serta tak luput mempunyai seorang sahabat yang baik yang selalu bersama ketika dia duka, lara pun senang. Via mempunyai sahabat dia bernama Mia dan Rahma. Kemana-mana kami selalu bersama seperti layaknya besi dan magnet yang sulit dipisahkan. Mereka pertama kenal ketika pertama MOS dan memulai sekolah di SMA, Ketika itu Rahma duduk sendirian dan tak sengaja Via menghampirinya dan berkenalan. Setelah mereka berbincang-bincang cukup lama datanglah seorang anak perempuan cantik putih bertahi lalat di bawah bibir yang tipis. Tahi lalatnya itu membuat wajahnya menjadi manis dan disegani oleh kaum Adam.


Cerpen Antara Cinta dan Sahabat
“Hai…. Rahma dah lama nunggunya yah???” kata perempuan itu

“Ea… lama banget, kamu dari mana saja???? kata Rahma
 
“Maaf yach aku berangkatnya siang, soalnya bangunnya kesiangan… hehehe” jawab Perempuan yang berbicara dengan Rahma sambil tersenyum.

“Oa,untungnya ada Via yang menemani aku di sini, Mi kenalin ini Via teman sekelas kita juga lho. Oya vi kenalin ini teman satu bangku aku namanya Mia” kata Rahma sambil memperkenalkan temannya.

“Kenalin aku Via, aku duduknya di samping tembok dekat pintu sama Ovie” kata Via memperkenalkan dirinya kepada Mia.

“Aku Mia, low boleh tau lo tinggalnya dimana”?? Tanya Mia kepada Via.

“Aku aslinya Banjarharjo, tapi di sini aku ngekost” jawab Via.

“Kapan-kapan kita main ke kostnya Via, Gimana,?? Rahma lo juga ikut yach”?? Mia melontarkan pertanyaan kepada Rahma.

“Itu ide yang bagus kita selalu kumpul-kumpul bareng di kosannya Via, Gimana kalau kita buat genk saja?” usul Rahma.

“Aku setuju dengan pendapatmu. Nanti kita buat kaos yang sama, tapi dipikir-pikir nama genk nya apa yach”?? Mia menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal karena begitu bingungnya.

“Tapi maaf teman-teman bukannya gw menolak, tapi aku bener-bener gak setuju dengan pendapat kalian, aku ingin bersahabat dengan kalian. Tapi aku gak suka buat genk-genk seperti itu, takutnya kalau kita buat genk, banyak teman-teman yang benci dan iri.” jelas Via.

“Yah Vi, tapi……….”

Sebelum Mia melanjutkan pembicaraannya bel sekolah pun berbunyi tanda peserta MOS kumpul di halaman sekolah untuk diberikan arahan dan himbauan dari kepala sekolah.

Sungguh ribet dan susah kembali menjadi peserta MOS harus menggunakan kostum planet yang sungguh menyebalkan itu seperti pake kaos kaki yang berbeda,tasnya menggunakan kantong kresek,rambutnya di ikat lebih dari 10 buah,sungguh membosankan dan menyebalkan ketika dimoment-moment MOS seperti ini.

Setelah kumpul di lapangan Rahma dan Mia senyum-senyum sendiri, dan aku bingung kenapa mereka senyum-senyum tanpa sebab. Adakah sumbernya kenapa mereka senyum-senyum sendiri. Setelah aku perhatikan ternyata mereka tersenyum ketika melihat kakak Osis. Dan kemudian aku bertanya kepada Rahma,”Rah, kamu dan Mia senyum kenapa??” Tanya Via dengan penasaran.

“Asal kamu tau aja ya Vi, aku dan Mia itu ngefans banget sama anak kelas X-2 itu, terus gw jatuh cinta sama cowok itu katanya sih namanya Dana”. jawab Rahma.

“Yang mana?” Tanyaku lagi.

“Itu yang paling cakep sendiri, Oa aku juga ngefens banget ama kakak OSIS jangan bilang sama Mia yach kalo aku ngasih tau ke kamu, aku itu ngefans banget sama Ka’ Zaenal sedangkan Mia ngefens sama ka’ Adit”. jelas Rahma.

“okey, tenang saja Rahma gw pasti gw bisa jaga rahasia ini kok, dijamin gak bakal bocor dech…….” kataku.

“Aku percaya kok sama kamu….. halah kaya ember saja bocor… . hehehehe”. Rahma sambil ketawa

Ketika asyik berbicara ternyata banyak pengarahan yang diberikan oleh kepala sekolah, sungguh menyesal sekali ku ini tidak mendengarkannya. Padahal banyak manfaatnya bagi kita khususnya bagi pelajar. Setelah beberapa lama kemudian peserta MOS di bubarkan.

Via sedang berfikir sepertinya enak sekali rasanya ketika menjadi anak SMA. Sama seperti yang Via rasakan saat ini Via ingin cepat-cepat menggunakan baju putih abu-abu dan agar cepat diresmikan menjadi murid SMA, rasanya lama sekali menunggunya waktu seperti itu. Apalagi, rumahnya sangat jauh dari sekolah sungguh enaknya jauh dari orang tua dan bebas untuk pergi-pergi kemanapun yang kita inginkan bersama teman-teman barunya. Tapi Via harus bisa mengendalikan diri dari pergaulan di zaman edan seperti ini, kalau kita mengikutinya maka kita akan masuk ke dalam jurang neraka yang isinya orang-orang berdosa.

Kicauan burung menari-nari di angkasa, Sungguh indah bila ketika memandangnya. Embun pagi menyejukan hati Semerbak wangi mawar membuat segar perasaan kita. Indahya alam ciptaan tuhan yang maha esa, Tak ada yang bisa menandinginya,Karena tuhan adalah sang kholik pencipta alam semesta.

Ricuhan murid-murid SMA bagaikan burung-burung yang sedang menyanyi-nyanyi. Murid-murid mulai berdatangan menuju sekolah untuk menuntut ilmu, walaupun ada yang niat sekolah hanya ingin mendapatkan uang jajan dan ingin memiliki banyak teman. Murid-murid berdatangan ada yang naik motor, sepeda, naik bus mini, angkot, diantar orang tuanya menggunakan mobil, adapun jalan kaki.
Bel sekolah pun berbunyi sebagai tanda waktu pelajaran dimulai. Murid-murid dengan tenang belajar di sekolah. Hening sepi keadaan di sekolah bagaikan tak berhunikan makluk, Seperti di hutan sepi sunyi.

Bel istirahat pun berbunyi, murid-murid bagaikan pasukan burung yang keluar dari sangkarnya menuju kantin gaul bu ijah. Perut mereka terjadi perang dunia ketiga mereka berebut makanan dan cepat-cepat mendahulukan mengambil makanan.

Aku tak nafsu untuk pergi ke kantin dan aku beranikan diri pergi ke perpustakaan.Setelah lamanya aku diperpustakaan datanglah seorang cowok ganteng yang diidam-idamakan oleh Rahma sahabatku sendiri.

“Hai…….vi kok sendirian saja disini.” kata cowok itu yang bernama Dana.

“Yah…. teman-teman aku lagi ke kantin, padahal aku diajak kekantin sama mereka, tapi aku pengennya pergi ke perpustakaan……. hehehe” kataku pada Dana.

“Oa…… kamu les di Prima Eta yach??” Tanya Dana.

“Eah…..kok kamu tau sich…” jawabku.

“Kan aku juga les disitu,terus gw juga sering merhatikan kamu lho!!” kata Dana.

“Memang kamu kelas X apa?, kok gw gak pernah lihat kamu?”

“Ruang X-B. oa,kamu ruang X-A ya?”

“yapz……….”

Aku tak ingin dekat-dekat dengan Dana, Tapi aku juga punya perasaan sama Dana aku bingung kalau aku berdekatan sama Dana nanti Rahma cemburu. Kemudian ku pamit sama Dana.

“Dan aku mau ke kelas dulu” kataku pada Dana.

“Owg…..eah Vi silahkan”
 
Kemudian aku menuju ke kelas, sebelum masuk ke kelas, di jalan aku ketemu Rahma. Aku menyapa Rahma dengan senyuman. Tapi apa yang Rahma kasih padaku, Rahma bersikap sinis. Aku bingung kenapa Rahma bersikap seperti ini kepadaku, Kemudian aku mencari Mia. Aku ingin menanyakan kepada Mia. Tentang sikap Rahma kepadaku. Setelah kutemukan Mia, ku langsung menanyakan kepada Mia.

“Mi,aku boleh nanya sesuatu kepadamu gak?” tak sengaja air mataku membanjiri wajahku yang lembut ini.

“Nanya tentang apa?”

“Tadi aku ketemu Rahma, aku nyapa dia, Tapi dia cuek, malah dia bersikap sinis kepadaku, Apa salahku Mi”.

“Apa benar tadi kamu janjian sama Dana di perpustakaan, kok kamu bisa ngehianatin sahabat sendiri sich”.

“Mi, tadi itu, aku gak sengaja ketemu Dana di perpustakaan, sumpah aku sebelumnya gak janjian, tolong bantuin aku, untuk jelasin ke Rahma Mi.”Aku memohon ke Mia agar dia bisa bantuin aku untuk jelasin ke Rahma.

“yach udah….gimana kalau pulang sekolah gw temuin kalian berdua”

“Terserah kamu Mi, yang penting Rahma tidak salah paham sama gw”
 
Kemudian setelah pulang gw nungguin Mia dan Rahma di kantin gaul,setelah beberapa lama aku nungguin munculah mereka dari balik kelas.setelah aku melihat Rahma.Aku langsung peluk Rahma dan aku teteskan air mataku.kemudian aku memohon-mohon agar Rahma mempercayai penjelasin yang diberikan oleh aku padanya.

“Rah, plis dengar penjelasan aku, aku gak ada hubungan apa-apa sama Dana, mana mungkin aku ngehianatin sahabat sendiri.”

“terus kenapa tadi kalian berdua ketemuan di perpustakaan.” Tanya Rahma.

“Aku gak sengaja ketemu di perpustakaan Rah, kalau kamu masih gak percaya, gimana kalau kamu nanya langsung sama Dananya?”

“owg………..yach dech aku sekarang percaya kok sama kamu, masa aku percaya sama orang lain daripada sahabat sendiri, maafin aku juga yach Vi,,”.

“Memangnya tadi siapa yang bilang sama kamu”.

“Sudah, gak usah dibahas, gak penting”.

Aku bingung kenapa Rahma langsung maafin aku, padahal aku baru sebentar jelasin kapada Rahma. leganya perasaanku ini.

“Makasih Rah”.

Kemudian kami pun saling berpelukan rasanya senang banget ketika kami baikan kembali. Setelah pulang sekolah, Aku seperti biasa membuka kembali buku pelajaran. Setelah ku membuka buku, tak sengaja ku temukan secarik kertas yang beramplop. Ku buka perlahan-lahan, tapi kenapa jantungku ikut berdetak lebih kencang. Kubaca perlahan-lahan.

Dear Via….

Izinkan aku untuk berkata jujur padamu, Sebelumnya ku minta maaf kalau aku sudah lancang mengirim surat ini. Aku sadar, aku bukan apa-apanya kamu. Aku juga tak pantas memilikimu. Tapi semakin ku pendam perasaan itu, semakin sesak rasanya dadaku ini kalau tak segera ditumpahkan.
Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Tapi tiap kali aku ingin melepaskan diri darimu, Tapi tiap kali itu aku ingin semakin kuat untuk memelukmu. Dan aku merasa heran mengapa perasaan ini hanya terjadi padamu, mengapa tak tumbuh pada gasdis-gadis yang lain, Bagi anak-anak lain mungkin menilainya, Mereka lebih cantik darimu?
Tetapi ini perasaanku, Aku justru suka padamu tak hanya karena kecantikanmu, Tapi juga karena innerbeauty mu sungguh menarik bagiku. Aku tak ragu lagi memilih gadis semacam kamu. Kamu ini memang tak ada duanya di dunia ini. Sudah beberapa lama ku pendam perasaan ini tapi baru kali ini ku beranikan diri utuk menyatakan kalau aku “CINTA dan SAYANG”sama kamu. Maafkan aku kalau aku tak gentel seperti anak laki-laki lain yang mengutarakan langsung di depan wajah dan bertemu langsung empat mata.

Tapi kalau kau mau agar aku langsung mengutarakannya aku akan mencoba, besok kita ketemu pulang sekolah di kelas X-9.

Orang yang mencintaimu
Adytia Pradana Putra

Aku bingung,Aku tak tau harus berbuat apa. Aku bingung memilih salah satu ini CINTA atau SAHABAT. Kata-kata itu selalu menggoyang-goyang pikiranku. Aku punya persaan sama Dana dan aku juga gak mau menyakiti perasaan sahabatku. Kenapa bisa terjadi pada aku, kenapa tidak Mia??? Bukanya aku iri pada Mia, tapi karena perasaan bingung ini jadinya aku tak sadar menyalahkan Mia.... ya tuhan tolonglah diriku ini, aku harus berbuat apa?.

Kemudian aku berfikir, aku sudah janji hidup dan matiku akan ku pertaruhkan demi sahabatku yang ku sayang. Aku relakan Dana untuk sahabatku Rahma. Aku tak ingn melihat sahabatku sedih.
Aku sudah punya keputusan, aku gak akan terima Dana jadi pacarku, Tapi aku akan bersujud di depan Dana dan bermohon-mohon agar Dana mau jadi pacarnya Rahma.

* * * * * * sekian * * * * * * * *


cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya....cinta yang sebenarnya adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih tetap menunggunya dengan setia....
cinta yang sebenarnya adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum dan berkata "aku turut berbahagia untukmu wahai SAHABATKU"


Nama : Eka Octav
FB : saputri.ekaoktaviani@yahoo.com
Email : eka.oktavianisaputri@yahoo.com
Twitter : @EccaNdulndul
sumber :  http://cerpen.gen22.net/2012/03/antara-cinta-dan-sahabat.html
ANTARA PERSAHABATAN & CINTA
Karya oleh :
“ D’aNgeL oF RizVia ”

SMP Nusa Bangsa yang semula terkesan damai dan syahdu, tiba-tiba pecah oleh hiruk pikuk para siswa. Semua pintu kelas telah terbuka lebar untuk siswa-siswi yang akan kembali ke rumah. Mereka tampak saling berebutan menuju halaman sekolah.


ANTARA PERSAHABATAN DAN CINTA
Di halaman sekolah, Livia, Zizy, A’yun, dan Qory sedang menunggu sahabat2 mereka yang lain, yaitu Arsya, Fian, Romi, Marvel, dan Nuri. Setelah kelima cowok itu datang, mereka segera pulang ke rumah bersama-sama. Itulah yang mereka lakukan setiap hari, berangkat sekolah, istirahat di kantin, bahkan pulang sekolah pun mereka bersama-sama, karena mereka semua bersahabat sejak kecil. Tapi lain bagi Arsya dan Marvel, karena Arsya adalah murid pindahan dari Indramayu, Jawa Barat. Sedangkan Marvel adalah mantan pacar Livia. Meski begitu, mereka tetap menjalin persahabatan dengan keduanya. Yah,, persahabatan sejak kecil, sekarang dan mungkin untuk selamanya.

Suatu hari di bulan April 2010, Livia mendapat masalah dengan pacarnya yaitu Arinal. Karena Arinal sudah tidak pernah menghubungi Livia lagi, dan itu yang membuat Livia menjadi sedih, Livia berpikir bahwa Arinal sudah tidak mencintai dia lagi, sudah berkali-kali Livia meminta pendapat pada ketiga sahabatnya, yaitu Zizy, A’yun, dan Qory, tapi mereka selalu meminta Livia untuk memutuskan hubungan dengannya dan mencari cowok yang lebih baik lagi, karena memang sudah sejak awal mereka tidak pernah menyetujui hubungan Livia dengan Arinal. Hingga Livia meminta pendapat pada sahabatnya yang lain, yaitu Arsya, Fian, dan Romi, tetapi jawaban mereka sama saja, Livia bingung dan sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Tetapi Arsya selalu menghiburnya, dia selalu memberikan motivasi kepada Livia, hingga sedikit demi sedikit hubungan mereka semakin dekat dan semakin akrab, dan kini Arsya lah yang menggantikan Arinal dalam inbox sms di hp-nya Livia. Dan lambat laun pula, timbul chemistry dalam hati mereka berdua.

Pada suatu hari, terjadilah pertengkaran antara Livia dengan Arsya, awalnya Arsya marah kepada Livia karena suatu hal, dan Livia sudah meminta maaf, tetapi Arsya berat untuk memaafkannya, hingga Livia nekat membohongi Arsya dengan cara menyamar menjadi seseorang yang bernama Vina agar dia bersedia memaafkan Livia. Awalnya Arsya percaya, dan pada suatu sore setelah pulang sekolah, hari itu hujan deras, Arsya meminta pada Livia untuk menemuinya di kebun belakang rumah, walau saat itu hujan deras, tapi Livia tetap datang dan dengan tubuh basah kuyup, disitulah Arsya memaafkan Livia. Setelah kejadian itu, hubungan mereka berdua kembali membaik seperti semula, hingga pada suatu hari, kebohongan Livia terbongkar, Arsya tahu bahwa selama ini Vina itu adalah Livia sendiri, dan Arsya berpikir bahwa Livia membohongi dirinya agar bisa memanfaatkannya untuk bisa memaafkan Livia, akhirnya terjadilah pertengkaran besar antara Arsya dan Livia, berkali-kali Livia meminta maaf pada Arsya tetapi Arsya menolak, hingga Livia pun menyerah dan dia membiarkan Arsya melampiaskan kekesalannya dengan cara menjauhi Livia dan berhenti menghubungi Livia. Sudah 1 minggu berlalu, Arsya masih tetap belum memaafkan Livia, dan pada suatu malam, Livia merenung sendiri di luar rumah, dia sedih karena sampai saat itu Arsya belum juga memaafkannya, dia juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menunggu keputusan Arsya untuk mau memaafkannya, tanpa tersadar dia menangis, sambil menatap bintang2 di langit malam, dia berdo’a kepada tuhan agar Arsya mau memaafkannya, tiba-tiba Livia mendapat sms dari Fitri, temannya yang 1 rumah dengannya, Romi, dan juga Arsya. Dalam sms itu, Fitri bertanya2 tentang Arsya, setelah mengetahui kejadian yang di alami oleh Livia dan Arsya, Fitri menyuruhnya untuk menghubungi Arsya lewat sms, tetapi Livia menolak karena dia tahu bahwa Arsya tidak akan membalasnya, dan dia takut Arsya akan marah padanya. Tapi Fitri terus mendesaknya. Akhirnya Livia memberanikan diri untuk menghubungi Arsya kembali, dan tidak disangka, Arsya membalas sms Livia, dan pada malam itulah Arsya kembali memaafkan Livia, dan pada saat itulah Livia tahu bahwa Arsya lah yang mendesaknya untuk menghubunginya dengan berpura2 menjadi Fitri. Sejak kejadian itu, Arsya semakin tahu dan mengenal siapa Livia sebenarnya, Arsya mengetahui semua sifat luar dan sifat dalam Livia. Dan sejak kejadian itu pula, Livia semakin merasa bahwa dia punya perasaan dengan sahabatnya, Arsya.

Di bulan Juni 2010, saat liburan akhir semester, Arsya pulang ke kota asalnya, yaitu Indramayu, walaupun Arsya dan Livia berjauhan, tetapi mereka tetap berhubungan lewat sms, dan pada suatu hari Livia menyatakan perasaannya kepada Arsya, Dia berterus terang bahwa dia mulai jatuh cinta padanya sejak kejadian pertengkaran itu, Livia berkata bahwa dia tidak bisa menahan lagi perasaannya, dia pikir perasaannya pada Arsya begitu kuat, dan ternyata Arsya membalas pernyataan cinta Livia, tak disangka bahwa Arsya pun mencintai Livia, tetapi sayangnya, cinta mereka tidak bisa bersatu, karena mereka berdua sama2 sudah ada yang punya, mereka berdua sama2 sudah mempunyai kekasih, dan mereka berdua juga tahu akan hal itu, akhirnya Arsya terpaksa memutuskan untuk tetap menjalin cinta dengan Livia tanpa status, dan tetap menjalani hubungan dengan kekasih masing2, dan Livia pun menyetujuinya karena sudah tidak ada cara lagi untuk mereka berdua, sedangkan mereka berdua sendiri tidak bisa mengakhiri cinta mereka begitu saja. Hal yang lain terjadi pada A’yun dan Fian, pada saat yang sama, Fian menyatakan cintanya kepada A’yun, tak disangka bahwa Fian sudah lama menyimpan perasaan cintanya itu selama 5 tahun, dan akhirnya A’yun pun menerimanya dan mereka resmi menjalin hubungan.

Yah, cinta yang berawal dari sebuah persahabatan. Dan hari-hari baru pun mulai mereka jalani bersama2. Sahabat2 mereka pun sudah mengetahui semua yang terjadi antara Livia dan Arsya dan mereka mendukungnya.

Seiring dengan berjalannya hubungan Livia dg Arsya, hubungan Livia dan Arinal tidak pula membaik, hubungan mereka semakin renggang, dan Livia pun semakin yakin bahwa yang dulu pernah dikatakan oleh ketiga sahabatnya itu adalah benar. Livia juga semakin yakin untuk memutuskan hubungannya dengan Arinal, tetapi Arsya selalu mencegahnya. Arsya tidak ingin Livia putus dengan Arinal yang disebabkan oleh kehadiran dirinya di tengah-tengah hubungan mereka berdua. Tetapi Livia tetap pada keputusannya. Awalnya Arsya mencegahnya, tetapi Livia meyakinkan Arsya bahwa keputusannya itu bukan semata-mata disebabkan oleh kehadiran Arsya dalam hidupnya, melainkan karena Livia memang sudah tidak lagi mencintai Arinal lagi, dan dia sudah terlanjur sakit hati karenanya. Akhirnya Arsya pun percaya dan mau menerima keputusan Livia dan sejak itu, status Livia menjadi single kembali.

Pada bulan Agustus 2010, Arsya pun mendapat masalah yang sama dengan kekasihnya Sella, hubungan mereka pun putus di tengah jalan, dikarenakan Sella terpaut hati dengan yang lain. Arsya sangat terpukul, dia sangat sedih dan kecewa dengan keputusan Sella, Arsya bingung harus bagaimana, dia pun menghubungi Livia dan menceritakan semua yang terjadi padanya, dalam hati Livia senang juga sedih, dia senang karena sudah tidak ada lagi yang memiliki Arsya dan itu memudahkannya untuk mendapatkan Arsya, tapi di lain hati dia juga sedih melihat Arsya yang sedih dan terpukul karenanya, Livia tak sampai hati melihat Arsya terpuruk dalam kesedihan seperti itu, Livia pun bingung harus berbuat apa, dia hanya bisa menghibur Arsya lewat sms, karena saat itu Arsya tak lagi bersamanya, Arsya kembali ke Indramayu, berkali-kali dan berhari-hari Livia terus menghibur Arsya, hingga Livia pikir Arsya mampu melupakan Sella begitu juga dengan kenang2annya. Tapi ternyata, tak semudah itu bagi Arsya untuk menjauhi Sella, bahkan melupakannya. Sudah 4 bulan berlalu sejak tragedi cinta Arsya di bulan ramadhan, hubungan Livia dengan Arsya pun semakin dekat, semakin membaik, dan semakin serius, tetapi Arsya masih belum bisa untuk menjadi milik Livia sepenuhnya, Livia pun hanya bisa pasrah menerima keadaan cintanya saat ini, karena dia tak mau terlalu memaksa Arsya untuk menjadi milik dia sepenuhnya. Pada bulan November 2010, Livia, Arsya, Fian dan semua sahabatnya merayakan hari ultah A’yun di rumahnya. 2 hari sebelum hari H, Livia dan sahabatnya yang lain merencanakan sesuatu untuk memberikan kejutan pada A’yun, dan ternyata kejutan itu pun sukses besar, hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan untuk A’yun dan Fian, Livia dan Arsya, dan juga sahabat2nya yang lain. Dan pada bulan ini juga, menjadi bulan yang sangat membahagiakan bagi Livia dan Arsya, karena di bulan ini, hubungan mereka semakin tumbuh harum mewangi, Arsya semakin menyayangi Livia, dari hari ke hari, sikap Arsya pada Livia pun semakin mesra dan romantic, begitu juga dengan Livia.

Tetapi sayangnya, keadaan itu tidak bertahan lama, mulai memasuki bulan Januari 2011, hubungan mereka pun renggang dikarenakan Livia mendengar kabar bahwa Arsya kembali dekat dengan mantan pacarnya, yaitu Sella. Kabar tersebut membuat Livia sangat kesal, bahkan Arsya pernah berduaan dengan Sella di depan kelas Livia, dan Livia melihatnya ketika kelas bubar, hingga Livia tidak mau keluar dan itu membuat teman-temannya keheranan.


“Kenapa kamu Liv..? koq nggak jadi keluar.. padahal kan kamu tadi bersemangat banget pengen pulang..” Kata Bella. “Tuh, liat aja sendiri, ada pemandangan yang bikin sakit hati.!!” Kata Livia kesal. Lalu Bella pun keluar dan melihat Arsya berduaan dengan Sella, dan menyindir mereka, “Ehm2, pacaran koq di sekolahan sich.. Inget2, ini sekolah, bukan tempat pacaran..!!” Sindir Bella. Dan mereka berdua pun pergi. Saat sampai di rumah, Arsya mendekati dan menggoda Livia, tetapi Livia malah menampakkan wajah kesalnya, hingga membuat Arsya terheran-heran dan bertanya pada Livia.

“Dek, kenapa sich..?? koq cuek gitu,,,” Tanya Arsya.

“Tau dech, pikir aja sendiri,,!!” Kata Livia kesal.

“Iiicch, marah ya.. Ada apa sich emangnya..??” Tanya Arsya bingung.

“Huh, udah puas ya tadi berduaan di depan kelas..!! Nggak tau malu banget sich..!! Bikin sakit hati aja..!!” Kata Livia marah.

“Berduaan..?? Ya ampun.. Jadi gara2 itu.. Gitu aja koq marah sich..” Kata Arsya.
 
“Kamu ini gimana sich, gimana nggak marah coba,! Aku pikir kamu udah bisa lupain si Sella, tapi ternyata ini malah berduaan, di depan kelas aku lagi,,!! Gila kamu ya..!!” Kata Livia yang semakin marah.

“Ya udah, aku minta maaf dech,, nggak akan ngulangin yang kayak gitu lagi,, maafin aku ya dek..” Kata Arsya meminta maaf.
 
“Tau ah..!! Udahlah, males aku ngomong sama kamu..!!” Kata Livia berlalu.

”Tunggu2.. Jangan gitu donk,, aku kan udah minta maaf, iya2 aku janji, maaafin aku ya My Princess..” Bujuk Arsya.

“Ya udah iya, aku maafin, tapi bener ya jangan di ulangin lagi, janji..!!” Kata Livia sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

“Iya, aku janji adekku tersayang..” Kata Arsya membalas. “Nah, sekarang senyum donk.. jangan cemberut gitu, jelek tau..” Kata Arsya lagi sambil mencubit pipi Livia.

“Hufft, iya sayang…” Kata Livia tersenyum senang.

Setelah kejadian itu, hubungan mereka pun kembali normal. Dan dari kejadian itu, dapat disimpulkan bahwa mereka berdua saling menyayangi, dan cinta mereka berdua begitu kuat, dan tak bisa terpisahkan. Dan mereka pun menjalani hari-hari indah seperti biasanya.

Pada bulan Februari 2011, terjadi pertengkaran kembali antara Livia dan Arsya, karena Arsya melihat dan mengetahui bahwa Livia kembali berkomunikasi dengan mantan pacarnya yaitu Marvel, Arsya cemburu begitu melihat Livia SMS_an dengan Marvel, Livia yang mengetahuinya segera meminta maaf pada Arsya, tetapi Arsya diam saja, seakan-akan dia tak mau memaafkan Livia, 5 hari Livia menjalani hari tanpa Arsya di sampingnya, Livia sedih dan meminta maaf kembali pada Arsya, bahkan Livia berkata bahwa dia tidak akan berhubungan lagi dengan Marvel, tak akan membalas sms Marvel lagi, dan bahkan akan menghapus nomer Marvel dari kontak HPnya, setelah mendengar pernyataan Livia itu, Arsya pun akhirnya mau memaafkan Livia. Dan pada bulan ini, LPP (Language Progress Program) di sekolah mereka mengadakan tour di Jogjakarta untuk menyelesaikan tugas terakhir mereka yaitu conversation dengan turis2 yang ada disana. Tetapi kini, hanya Livia dan Qory yang ikut, karena A’yun dan Zizy sudah sejak awal tidak mengikuti LPP. Saat berada dalam bis, Livia menghubungi Arsya, dia meminta maaf karena tidak sempat berpamitan dengan Arsya tadi saat di rumah, dan disitulah Livia berpamitan dengan Arsya, sekaligus meminta do’a agar selamat sampai tujuan juga selamat sampai di rumah dan agar lancar dalam menjalankan tugasnya saat disana. Setelah itu mereka melanjutkan SMS_annya, saat SMS_an itu, Livia berkata bahwa dalam bis itu dia sangat kedinginan, sedangkan sweaternya ada di dalam tas dan Livia tak bisa mengambilnya karena sweater itu ada di dasar tas, Arsya pun memberikan perhatiannya pada Livia dengan menyuruhnya untuk mengambil sweater itu meskipun ada di dasar tas, demi Livia agar tidak kedinginan lagi, dan selama dalam perjalanan tour itu Arsya selalu memberikan perhatian pada Livia hingga Livia kembali. Livia juga tidak lupa untuk memberi Arsya dan sahabat2nya oleh-oleh dari Jogja. Saat di Malioboro, Livia membelikan kaos hitam Jack Daniel dan souvenir berupa gantungan segitiga yang di dalamnya terdapat miniatur candi borobudur untuk Arsya. Begitu juga dengan sahabat2nya. Livia juga membelikan oleh-oleh berupa bakpia untuk sahabatnya juga untuk keluarganya, Livia pun sampai di rumah kembali pada pagi harinya.

Dan pada bulan Maret 2011, tepatnya pada tanggal 4 dan 5, Livia, Zizy dan A’yun pergi ke Malang untuk mengikuti Tes Penerimaan Siswa Unggulan Baru di MAN 3 MALANG, sebelum pergi, Livia menyempatkan untuk berpamitan dengan Arsya dan meminta dukungannya sekaligus do’a untuknya, begitu juga dengan A’yun dengan Fian, mereka juga meminta dukungan dan do’a kepada semua teman dan sahabatnya. Dan pada tanggal 10, Livia melihat pengumuman kelulusan tes tersebut, tapi ternyata, Livia, Zizy dan A’yun tidak lulus, Livia pun membicarakan hal itu dengan Arsya lewat sms, saat SMS_an itu, Livia berkata bahwa mereka bertiga tidak lulus dan Livia sangat sedih, lalu Arsya pun menghiburnya dengan berkata bahwa tidak semuanya yang kita inginkan bisa tercapai, dan itu semua membutuhkan proses, Arsya mengakui bahwa Livia adalah cewek yang pintar dan cerdas, dan Arsya yakin bahwa Livia dan yang lainnya pasti bisa diterima pada tes regulernya, Arsya berkata bahwa dia bangga bisa mempunyai cewek seperti Livia yang pintar, karena dia tahu kalau Malang itu adalah tempat sekolahnya anak-anak yang pintar,, mendengar hal itu, Livia menjadi semangat dan tidak bersedih lagi, Livia pun berterima kasih pada Arsya karena sudah memberinya dukungan dan semangat.

Pada tanggal 23 Maret, Livia merayakan ultahnya bersama dengan Arsya, A’yun, Fian, Romi, Bella, dan Ana. Dua hari sebelumnya tepatnya tanggal 21 Maret, A’yun mempunyai rencana untuk ngerjain Livia habis2an, saat malamnya, Livia mengirim SMS pada Arsya, tetapi Arsya tidak membalasnya, setelah agak lama, Arsya membalas dan meminta maaf karena dia telat, Arsya berkata bahwa dia keasyikan SMSan dengan Lia, cewek Indramayu tetangganya, Livia pun kesal dan marah pada Arsya, dan saat itu juga, A’yun sms Livia, dia berkata bahwa dia sangat marah sekali dengan Arsya karena siang tadi Arsya mencubit pipinya di depan Fian, dan sekarang A’yun bertengkar dengan Fian, A’yun pun meminta tolong pada Livia agar Livia mau membantunya membicarakan masalah ini dengan Arsya, Livia pun bingung harus bagaimana, karena saat itu Livia juga sedang bermasalah dengan Arsya. Keesokan paginya, Livia bertemu dengan A’yun di sekolah, A’yun marah2 pada Livia karena perbuatan Arsya kemarin, Akhirnya Livia berjanji untuk membantunya, saat itu juga, Arsya ngerjain Livia lagi, sehingga membuat Livia makin sedih, dan malam harinya, Livia berkata pada Arsya lewat SMS tentang masalah A’yun itu, lalu Arsya meminta nomer A’yun untuk meminta maaf, setelah agak lama, Livia merasa sudah mengantuk dan dia ketiduran, tapi Arsya membangunkan Livia, Arsya melarang Livia tidur karena Arsya kesepian dan tak bisa tidur, Arsya meminta Livia untuk tetap menemaninya malam itu, Livia pun terpaksa menyetujuinya. Pada pukul 12.00 malam tepat, Hp Livia berdering, seseorang menelponnya, dia memakai privat number, Livia pun mengangkatnya, “Surprise..!!!” Ternyata itu adalah Arsya, Arsya mengucapkan met ultah pada Livia, Livia sangat bahagia sekali, Arsya bercerita bahwa Lia, dan masalah A’yun dan Fian itu adalah bagian dari sandiwara mereka untuk memberikan surprise ini padanya, Arsya juga berkata bahwa dia menelponnya karena dia ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan met ultah ke Livia. Pada keesokan harinya tepatnya tanggal 23 Maret, setelah pulang sekolah, Livia, Ana, Bella, dan teman2 lainnya yang tergabung dalam kelompok dance Livia mengadakan latihan di rumahnya, saat perjalanan menuju rumah Livia, Ana menyiram Livia dengan air yang dibawa oleh Ana dari rumah, Livia sangat terkejut, tapi Livia tak bisa lari, setelah sampai di rumah, Ana menariknya sampai di kamar mandi dan menyiram Livia kembali, Livia sangat malu, karena disitu ada Arsya dan Fian. Setelah itu Livia mengganti bajunya dan mulai latihan kembali. Tiba2 A’yun datang, dan langsung menuju ke atas menemui Fian pacarnya, Arsya dan Romi, setelah itu dia turun lagi menemui Ana dan meminta Ana untuk menemaninya ke atas. Setelah agak lama, Ana kembali turun memanggil Livia dan mengajaknya ke atas juga, saat di atas, Ana mengajak Livia untuk membicarakan sesuatu tentang kelompok dancenya di luar, tiba2 dari belakang Arsya menyiramnya, disusul dengan siraman dari A’yun, Fian, Romi, Ana dan Bella, Livia sangat terkejut juga bahagia, setelah penyiraman selesai, tiba2 Arsya datang di hadapan Livia dengan membawa sebuah kado di tangannya. Arsya mengucapkan met ultah sekali lagi pada Livia, dan memberikan kado tersebut padanya, dan Arsya menyuruh Livia untuk membukanya. Dan ternyata isinya adalah sebuah jam tangan dan di dalamnya terdapat surat, Livia pun membacanya, dan Arsya meminta Livia untuk segera memakai jam tangan itu, tetapi Livia menolaknya karena jam tangan itu terlalu besar untuk ukuran tangan Livia, tetapi Livia berjanji akan segera memakainya, setelah itu A’yun dan Fian yang memberinya kado, isinya adalah 1 boneka semut besar, 1 boneka teddy kecil dan gantungan. Setelah semua teman2 Livia sudah pulang, Marvel , mantan pacar Livia datang untuk mengucapkan met ultah pada Livia. Setelah agak lama mengobrol, akhirnya Marvel pun pulang. Malam harinya saat SMSan, Arsya berkata bahwa dia sangat bahagia karena bisa merayakan hari ultah Livia, dia berkata bahwa dia sangat bahagia ketika melihat Livia tersenyum dan tertawa bahagia seperti tadi dan berharap bahwa hari bahagia itu akan selalu terjadi, sehingga Arsya selalu bisa melihat Livia tersenyum selalu. Hari itu menjadi hari yang sangat membahagiakan buat Livia, Arsya, dan sahabat2nya.

Pada akhir bulan Maret 2011 itu, Livia dan Arsya juga semua sahabat2nya mengikuti ujian Try out UN. Dan pada tanggal 9 April, Livia mengajak Fian untuk ikut memberikan surprise di hari ultah Arsya, pada pukul 10.00, Livia naik keatas untuk menemui dan memberikan kejutan itu untuk Arsya, dengan membawa kue ultah buatannya sendiri, disertai dengan nyanyian ultah ala Livia, membuat Arsya terkejut dan tersentuh hatinya, setelah itu Livia menyuruh Arsya untuk meniup lilinnya dan memakan kuenya, tetapi Arsya malah memberikan potongan kue pertamanya tersebut pada Livia dan menyuapinya, setelah itu baru Arsya meminta Livia untuk balik menyuapinya, Livia sangat bahagia, begitu juga Arsya yang merasa bahagia dengan adanya surprise dari Livia. Setelah agak lama, tiba2 Fian datang dan langsung melempar tepung yang ada di genggamannya pada Arsya, belum puas dengan lemparan tepung itu, Fian pun melemparkan tepung itu juga pada Livia, hingga mereka berdua sama-sama belepotan karena lemparan tepung itu, saat melihat Livia yang wajahnya penuh dengan tepung, Arsya pun tertawa dan mengusap wajah Livia dengan tangannya, membersihkan tepung itu dari wajahnya, begitu juga Livia, dia pun mengusapkan tangannya pada wajah Arsya yang penuh dengan tepung. Setelah selesai membersihkan wajah masing-masing, Arsya menggenggam tangan Livia dan berterima kasih pada Livia karena telah memberikan surprise itu padanya, dia berkata bahwa dia sangat bahagia sekali hari itu, lalu Arsya mencium kedua tangan Livia hingga membuat Livia tersipu malu. Dan pada awal bulan Mei, Arsya meminta izin pada Livia untuk pergi, pulang ke rumah asalnya di Indramayu. Awalnya Livia berpikir untuk tidak mengizinkan Arsya pergi, tetapi Livia memikirkan kebahagiaan Arsya juga, Livia berpikir bahwa Arsya butuh istirahat di rumah asalnya, dan akhirnya Livia pun mengizinkannya. Dan Arsya pun berterima kasih pada Livia dan mencium pipi Livia. Livia tersipu malu dan merasa bahagia. Tepat di hari perginya Arsya, Livia diminta oleh sahabatnya Fian untuk menemani dia mengantar kepergian Arsya ke stasiun. Awalnya Livia ragu2 karena pada saat itu adik Livia sakit keras dan Livia diminta untuk menjaga adiknya itu di rumah sakit. Karena Livia tidak ingin melewatkan kesempatan indah itu, akhirnya Livia meminta izin pada kedua orang tuanya dengan alasan reuni alumni, dan Livia pun ikut mengantar kepergian Arsya ke stasiun bersama dengan Fian. Sebenarnya Arsya tidak mengizinkan Fian untuk mengajak Livia ikut serta mengantarnya karena dia takut akan terjadi sesuatu yang buruk padanya saat di jalan nanti, tetapi Fian tetap bersikeras untuk mengajak Livia dan dia berkata bahwa tidak akan terjadi apapun pada Livia dan dia juga berjanji untuk menjaga Livia saat di jalan nanti, dan akhirnya Arsya pun menyetujuinya dengan terpaksa. Saat tiba di stasiun, Arsya pun mengucapkan kata terakhirnya sebelum meninggalkan Livia pergi. Dia berpesan pada Livia untuk selalu menjaga kesehatannya selama tak ada Arsya disampingnya, dan selalu mengingat Arsya dimanapun dan kapanpun, dan akan selalu menjaga hati dan cintanya hanya untuk Arsya sampai saatnya Arsya kembali. Livia pun menyetujuinya dan berjanji akan melakukan semua yang diminta oleh Arsya. Begitupun sebaliknya dengan Arsya. Kemudian Arsya pun mencium pipi dan kening Livia dan mengucapkan salam perpisahan padanya. Dan setelah itu Arsya pergi meninggalkan Livia dan Fian menuju kedalam peron. Setelah Arsya masuk, Livia dan Fian pun pulang.

Satu minggu berlalu Livia jalani hari-harinya tanpa Arsya, tapi walaupun mereka berjauhan, mereka tetap saling memberi kabar, saling sms_an, saling merindu, dan masih tetap saling menjaga perasaan masing-masing. Tetapi, kebahagiaan yang Livia rasakan tidak bertahan lama, sampai suatu hari ada sebuah kejadian yang membuat hubungan mereka hancur berkeping-keping.

Satu minggu sudah Livia menanti kabar dari Arsya yang tak kunjung membalas satupun sms dari Livia. Livia sangat sedih dan tak hentinya memikirkan Arsya. Sampai suatu hari, Livia mengirim sms pada Arsya yang berisi bahwa Livia sudah tidak kuat lagi menahan semua penderitaan yang sudah dia alami, Dia berkata bahwa lebih baik Livia pergi dari hidup ini dan tak kembali untuk selama-lamanya, dan Livia pikir Arsya akan tetap bahagia dan mungkin akan lebih bahagia jika melihat dan mendengar bahwa dirinya sudah tiada, dan tidak akan ada lagi yang mengganggu kehidupannya, dan terakhir Livia mengucapkan selamat tinggal untuk selama-lamanya pada Arsya. Disertai dengan tangisan dan keputus-asaan, Livia mengirimkan sms itu pada Arsya dan mulai mengambil sebuah cutter yang digunakan untuk melukai lengannya sendiri. Tapi sayangnya, Arsya tidak menggubris sms Livia, Livia semakin sedih dan semakin menggores lengannya. Sahabatnya, A’yun dan Fian yang mengetahui hal itu langsung mengirim sms pada Livia dan bertanya apa yang terjadi padanya. Tapi Livia tidak menjawabnya, A’yun dan Fian semakin takut jika terjadi hal yang buruk yang menimpa Livia. Esok paginya, A’yun dan Fian datang ke rumah Livia untuk memastikan keadaan Livia, saat A’yun masuk ke kamar Livia, A’yun menemukan Livia tergeletak dengan lengan penuh darah, A’yun terkejut dan menjerit hingga Fian datang menyusul ke kamar, begitupun dengan Fian, dia sangat terkejut melihat Livia tergeletak lemas disana. Lalu tanpa pikir panjang, A’yun segera menyuruh Fian untuk mengangkatnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, Livia pun dirawat dan dokter berkata bahwa Livia kehilangan banyak darah, hingga dia harus melakukan transfusi darah dan sayangnya, persediaan darah di rumah sakit sedang kosong. A’yun dan Fian terkejut, mereka sangat sedih dengan apa yang menimpa sahabatnya, Livia. Mereka semakin sedih saat tahu bahwa darah mereka tidak ada yang cocok untuk di donorkan pada Livia dan satu-satunya orang yang darahnya cocok untuk di donorkan darahnya hanyalah Arsya. Fian pun bertanya pada dokter sampai kapan Livia bisa bertahan menunggu adanya donor darah tersebut, dan dokter pun menjawab bahwa Livia masih bisa bertahan selama 3 jam. Mendengar pernyataan dari dokter, Fian segera menelpon Arsya dan memberi kabar padanya tentang keadaan Livia yang kritis saat ini. Setelah berbicara panjang lebar, Fian kembali dengan tangan kosong, tanpa hasil, Arsya tidak bisa datang saat itu juga karena sibuk, dan meminta maaf pada mereka karena tidak bisa menolong Livia. Fian sangat kecewa dan sangat marah pada Arsya, tetapi A’yun menenangkannya dan mengajak Fian untuk tetap mencari donor darah untuk Livia. Saat A’yun dan Fian sudah hampir menyerah dan waktu sudah hampir habis, tiba2 Marvel datang dan berkata bahwa darahnya cocok dengan Livia dan dia bersedia untuk mendonorkan darahnya pada Livia. A’yun dan Fian sangat senang dan meminta Marvel untuk menemui dokter. Setelah tranfusi darah selesai dilakukan, dokter berkata bahwa keadaan Livia berangsung-angsur membaik. Mereka bertiga pun senang dan bersyukur bahwa sahabatnya akan sembuh, A’yun dan Fian juga berterima kasih pada Marvel telah membantu mereka juga Livia. Dan mereka pun bergantian menjaga Livia di rumah sakit. 3 hari sudah Livia jalani hari-hari buruknya di rumah sakit dan kini dia sudah kembali ke rumah. A’yun pun bertanya pada Livia apa yang terjadi padanya, dan mengapa Livia menggoreskan cutter tajam ke lengannya sendiri. Livia pun menceritakan apa yang terjadi padanya dan Arsya. Mendengar cerita Livia, Fian jadi semakin marah pada Arsya, tiba2 Livia menerima sms dari Arsya, dalam sms itu, Arsya marah2 pada Livia karena sms Livia dulu, dia berkata bahwa saat itu Arsya pergi jalan2 dengan teman2nya disana dan dia tidak membawa hp, hp nya dia tinggalkan di rumah dan sms Livia saat itu di buka dan dibaca oleh orang tua Arsya, hingga saat Arsya pulang, orang tuanya memarahi Arsya. Livia sangat sedih dengan sms Arsya, dia sedih kenapa Arsya tidak bisa memahami keadaan Livia dan malah memarahinya saat dia baru saja melewati masa-masa buruknya. Setelah perdebatan yang panjang dengan Livia, akhirnya Arsya berkata pada Livia bahwa lebih baik hubungan mereka hanya sebatas teman biasa saja, tidak lebih karena Arsya menyadari bahwa dirinya tidak bisa membahagiakan Livia dan malah membuatnya terluka, Livia pun tidak setuju dengan pernyataan Arsya dan berkata bahwa selama ini Livia tidak pernah merasa dilukai oleh Arsya dan semua yang terjadi padanya itu bukan semata-mata karena Arsya, tetapi karena kesalahan dirinya sendiri. Livia juga meminta maaf pada Arsya karena telah membuat dia dimarahi oleh orang tuanya dan meminta Arsya untuk menarik kata-katanya tadi. Livia juga menjelaskan bahwa jika Arsya merubah hubungan mereka menjadi sebatas teman biasa saja, Livia akan semakin sedih dan terluka, Livia akan lebih bahagia jika masih tetap bisa bersama dengan Arsya hingga sampai tiba saatnya nanti mereka harus berpisah. Arsya bingung dan tak bisa memutuskan hari itu juga, dan Arsya pun mohon diri pada Livia untuk mengakhiri sms tersebut. Dan diakhir sms, Arsya masih memberikan kiss bye nya untuk Livia. 1 hari setelah kejadian itu, Livia mencoba menghubungi Arsya kembali, dan Livia sangat bersyukur karena Arsya masih mau membalas sms nya, dan Arsya masih mau memaafkan Livia dan tetap mengizinkan Livia untuk memanggilnya dengan sebutan “Maz”. Dan 2 hari setelah itu, Livia dan Fian mengikuti rekreasi ArSemA(Arek Sembilan A) ke Malang dengan tujuan ke beberapa tempat, yaitu Masjid Turen, Wendit, Pasar Lawang dan terakhir adalah Wisata makam Sunan Ampel di Surabaya. Awalnya Livia pergi dengan perasaan bahagia, karena dia bisa pergi bersenang-senang dengan teman2 dan sahabat2nya. Saat perjalanan pulang, dia mencoba untuk menghubungi Arsya karena saat itu dia sangat merindukan Arsya. Tetapi ternyata Arsya menjawab sms itu dengan jawaban yang tidak pernah diharapkan oleh Livia, di sms itu dia malah memarahi Livia karena dia masih memanggil namanya dengan sebutan “Maz”, dan Arsya meminta pada Livia untuk tidak memanggilnya dengan sebutan itu lagi, Livia sangat sedih dan meminta maaf pada Arsya dan mencoba untuk menjelaskannya tetapi Arsya tidak peduli dan malah mengakhiri sms itu. Livia benar2 sedih dan menceritakan kejadian itu pada sahabatnya, Fian. Fian terkejut dan mencoba untuk membantu Livia karena dia merasa kasihan dengannya, Fian mencoba untuk menghubungi Arsya tetapi semuanya sia-sia, karena Arsya sama sekali tidak menggubris mereka. Livia semakin sedih, melihat hal itu, Fian segera menghubungi A’yun untuk datang menghibur Livia, tetapi semua itu juga sia-sia. Berkali-kali Livia mencoba menghubungi Arsya, tetapi Arsya benar-benar tidak memperhatikannya, bahkan Livia sempat berpikir bahwa Arsya sudah tidak mencintainya lagi, dia berpikir bahwa Arsya sudah memiliki kekasih hati yang baru, yang membuat Livia semakin sedih, hancur dan terluka. Pada malam harinya, Livia mencoba menghubungi Arsya kembali, dan akhirnya Arsya mau mengangkatnya, dan disitu Livia meminta maaf pada Arsya atas semua kesalahan yang telah dia perbuat selama ini, dan menanyakan sebab Arsya tidak mengizinkannya lagi memanggil dengan sebutan “Maz”. Tetapi Livia malah mendapatkan jawaban yang tidak pernah diinginkan olehnya. Arsya memaafkan tetapi dia tidak mau memberikan alasan kenapa dia tidak lagi mengizinkan Livia memanggilnya dengan sebutan “Maz” lagi, Arsya hanya berkata bahwa lebih baik hubungan mereka berdua hanya sebatas teman biasa saja, dan tak bisa melanjutkannya lagi, dan mengenai alasan, Arsya tidak mau menjawabnya, dia hanya diam saja. Livia sangat sedih dan mencoba membujuk Arsya, Livia berusaha untuk membuat Arsya merubah keputusannya, tetapi Arsya tidak peduli dan tetap pada keputusannya. Hal itu membuat Livia meneteskan airmatanya, dan menangis memohon2 pada Arsya, tetapi sayangnya Arsya tidak bisa merubah keputusannya itu, dan Arsya pun mengakhiri pembicaraan itu. Sepeninggal Arsya, Livia terus meneteskan airmatanya hingga membuat matanya bengkak. Livia sangat sedih dan terpukul saat mendengar langsung keputusan Arsya untuk mengakhiri hubungan mereka yang sudah terlanjur mereka jalani dengan hati yang tulus dan suci.

Esok paginya, Livia menceritakan semua kejadian yang telah dia alami pada sahabat2nya, mereka semua sangat terkejut dan tak percaya dengan apa yang Livia ceritakan. Fian, Marvel, A’yun dan Qory geram pada Arsya atas apa yang sudah dia lakukan pada Livia. Dulu, mereka sangat mempercayai Arsya untuk menjadi pengganti Arinal, untuk menjadi kekasih hati Livia, mereka sangat mendukung Arsya, tetapi sekarang, mereka benar2 geram pada Arsya dan merasa menyesal telah mempercayakan semua itu pada Arsya. Fian dan Marvel adalah orang yang pertama kali merasa kecewa dan marah pada Arsya, karena Fian mewakili ke-4 sahabat Livia pernah memberikan kepercayaan seutuhnya pada Arsya untuk selalu menjaga Livia, menjaga hati juga cintanya, tetapi semua itu malah di salah gunakan oleh Arsya dan mengkhianati Livia. Sedangkan Marvel, sebagai cinta pertama Livia dan orang yang pernah mengisi relung hati Livia yang juga telah memberikan kepercayaan pada Arsya untuk selalu menjaga dan mencintai Livia sepenuh hatinya, dan memberikan janji untuk tidak menyakiti hati Livia dan mengkhianatinya. Kemudian, mereka mencoba untuk menghibur Livia dan berkata untuk tidak terlalu terpuruk dalam kesedihannya, karena mereka yakin bahwa apa yang dilakukan oleh Arsya itu demi kebahagiaan Livia juga. Akhirnya Livia pun mendengarkan nasihat sahabat2nya dan mencoba untuk menerima semua takdir yang telah diberikan untuknya dan Livia juga akan selalu menanti kedatangan Arsya kembali.

2 Minggu kemudian, terdengar kabar bahwa Arsya telah kembali dan hal itu membuat Livia senang, tetapi Livia kembali teringat dengan apa yang telah terjadi diantara mereka berdua, hingga membuat Livia kembali bersedih dan mencoba untuk menjaga jarak dengan Arsya. Saat itu, adalah hari2 terakhir Livia bisa berkumpul dan bertemu dengan teman2nya, yaitu Romi dan terutama dengan Arsya, karena 3 hari setelah itu, akan diadakan acara wisuda tahun 2010/2011 di sekolah Livia. Sebenarnya Livia ingin menciptakan lebih banyak kenangan manis lagi dengan sahabat2nya, begitu pula dengan Arsya, tetapi hal itu sangat tidak mungkin, mengingat hal yang sudah terjadi antara Livia dan Arsya, hingga Livia pun menyerah dan tak mau memaksakan kehendak Arsya, walaupun begitu dia juga harus tetap bersyukur karena pernah diberikan kesempatan yang sangat tak ternilai harganya dan tak terhitung banyaknya untuk bisa menciptakan kenangan manis itu berdua dengan Arsya.

Tibalah saatnya untuk Livia berpisah dengan semua sahabat2nya setelah acara prosesi wisuda selesai. Saat di pertengahan acara, Livia sempat menangis sesenggukan karena mengingat banyaknya kenangan manis yang telah mereka buat bersama yang saat itu juga harus dia tinggalkan. Dan pada akhir acara, Livia tak mau kehilangan kesempatan untuk berfoto ria bersama sahabat2nya, bercanda dengan mereka untuk yang ke terakhir kalinya sebelum mereka semua pergi meninggalkannya begitu juga sebaliknya. Tetapi hanya 1 orang yang menolak untuk foto dengannya saat itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Arsya sendiri, padahal Fian, Romi, Marvel, dan Nuri mau memberikan kesempatan pada Livia untuk foto bersama diri mereka secara bergantian, setelah Arsya dibujuk rayu dan akhirnya dia tetap menolak ajakan itu, Livia pun menyerah dan membiarkan Arsya dalam kesenangannya sendiri. Dari jauh Livia menangis melepaskan kepergian Arsya dan dari jauh pula Livia mengucapkan selamat tinggal pada Arsya untuk selama-lamanya.
===== THE END =====

sumber : http://cerpen.gen22.net/2012/02/antara-persahabatan-dan-cinta.html
RINDUKU KENANGANKU
oleh: Rica Okta Yunarweti

               Cahaya keemasan matahari dan hembusan angin sore membuat daun-daun kecil berguguran di pinggir danau dan menyilaukan pandanganku pada secarik kertas di depanku. Hari-hariku terasa menyenangkan dengan sebuah kuas yang terukir namaku “Diana”. Yah, boleh dikatakan aku gemar melukis di tempat-tempat yang menurutku indah dan tenang. Apalagi dengan seorang sahabat, membuat hidupku lebih berarti.
               Dari kejauhan terdengar alunan biola nan merdu semakin mendekati gendang telingaku. Alunan merdu itu membuatku semakin penasaran.
               “Ya sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja”
               Dengan rasa penasaran, aku sambil mengemas peralatan lukisku dan mengendarau sepeda menyusuri jalan komplek rumahku yang berbukit dan rindangnya pepohonan sepanjang jalan di bawah cahaya mentari yang mulai redup.

* * *
Pulang petang menjadi hal yang biasa bagi Lintang. Seorang gadis tomboy berambut hitam panjang yang selalu di kuncir ke atas. Dia selalu bermain basket di bawah rumah pohonnya, letaknya di samping danau yang airnya tenang, setelah pulang dari les. Dengan mengusap keringat di pipinya dia bergegas menyusuri komplek rumahnya dengan perasaantakut karena selalu pulang telat.
Pada waktu yang bersamaan, Diana meletakkan sepedanya ke garasi dan melihat Lintang.
               “Lintang,, Lintang,, dari mana saja kamu?
               “Aku mencarimu! Kata Diana
               “Aku main basket di tempat biasa, di bawah rumah pohon. Ma’af, udah buatmu khawatir.”
               “Entahlah…. Sudah dulu ya, bau banget nih.
               “Huuhh,, dasar cewek gadungan, aku dicuekin lagi…! Kesal Diana
               Dengan rasa kesal, gadis itu pun masuk ke kamar khayalannya. Meletakkan peralatan lukisnya di sudut ruangan dekat lemari kaca yang penuh dengan boneka kucing dan patung kecil yang terbuat dari tanah liat. Ia selalu menatap lukisan sunset yang di belakang pintu kamarnya. Ketika melihat itu, ia merasakan tenangnya dunia di laut lepas.

* * *
               Lintang segera membersihkan dirinya karena takut ibunya marah. Ibunya pun heran melihat tingkah anak semata wayangnya itu. Sifat keras kepala Lintang yang biasanya tampak, namun kala itu hati tomboynya bisa luluh dengan rasa bersalahnya. Ketika ia duduk di atas kursi yang tinggi sambil mengamati indahnya malam. Tiba-tiba ia merasakan sakit pada badannya, perutnya nyeri dan nafasnya terasa sesak. Lintang bingung dengan apa yang dia rasakan dan tiba-tiba ia terjatuh dari kursi tingginya, mencoba mengendalikan diri untuk bangkit ke tempat tidur dan beristirahat.

* * *
               Teriknya mentari dan angin sepoi-sepoi yang dirasakan di bawah pohon nan rindang, membuat siswi SMA ini hanyut dalam omajinasi. Khayalan yang sungguh nyata membawa ia larut dalam impian.
               “Hai Diana, asyik bener nih melukisnya, lihat dong. Pasti lagi gambar aku kan? Kejut Lintang
               “Hmm,, ngapain juga aku gambar kamu. Seperti gak ada objek lain aja yang lebih bagus.. hahahha..
               Mereka begitu asyik bercanda tanpa menghiraukan teman yang lain di sekitarnya yang merasa kebisingan karena tingkah mereka yang sungguh beda dengan siswi lainnya. Dan anak-anak yang lain sebaliknya sudah merasa biasa dengan sikap mereka itu.
               “Aku mau cerita..tapi……….(serius Lintang_
               “Cerita aja…ada apa? ( menatap Lintang kebingungan)
               Tiba-tiba, Lintang terjatuh. Kata-kata yang ingin ia bicarakan tidak mampu terucap. Kepanikan gadis seni ini sungguh luar biasa. Ketika di ruang UKS, Lintang terbaring tak berdaya. Diana berlari menyusuri kelas dan mencari telepon di sekolahnya. Untuk memberi kabar pada orang tua Lintang dan membawanya ke rumah sakit..
               “Aku ada di mana? Ada apa denganku? ( sadar Lintang)
               “Kamu ada di rumah sakit. Kamu tadi pingsan di taman belakang sekolah. Kamu nggak apa-apa kan? (khawatir Diana)
               “Aku sakit apa? Mana ayah?”
               “Dokter masih belum memberitahukan pasti penyakitmu. Ayahmu masih dalam perjalanan. Bersabarlah sebentar. Cepat sembuh ya,, biar sore ini kita bisa belajar bareng, kan kamu udah janji kemaren.”
               “Mungkinkah penyakitku itu serius?””ahh, jangan berpiir gitu, kamu pasti sembuh. Semangatlah, aku akan ada di sampingmu..”
               “Sudah, sekolah sana. Biar pintar, dan bisa membalap rangkingku. Hhaha…”
               “Iihh,, kamu. Calon ilmuan gini diejekin. Pasti dong aku bisa. Hhehe”
               “Ya deh,, buktikan ke aku ya nanti.”
               “Iya, pasti. Suatu saat kita akn merayakan keberhasilan kita. Aku ke sekolah dulu ya.! Sebentar lagi, orangtuamu juga akan ke sini. Bye !!”
               “Bye.. Hati-hati ya Diana. Thank’s!"

* * *
               Jalan lorong sekolah tampak sepi, hanya ada seorang gadis berambut hitam pendek duduk di depan kelas musik sambil membawa biola dengan wajah yang tampak murung, Diana segera menghampirinya.
               “Hai, kenapa kamu sendiri? Nggak masuk kelas?” Tanya Diana heran
               “Hmm, aku.. aku.. mau sendiri di sini aja.”
               “Jangan seperti anak kecil, ayolah masuk. Tapi, apa yang membuatmu sedih?” penuh heran
               “Tadi, ketika ada pemilihan bakat pemain biola, aku ada kesalahan memainkan nada, sampai-sampai alunannya nggak enak didengar. Mereka menertawakanku, padahal aku baru saja pindah ke sekolah ini jadi aku masih belum pandai memainkan alat musik seperti biola ini..”
               “Kamu sudah hebat kok, kamu bisa memainkan alat musik kesukaanku, dan aku… aku hanya bisa menggambarnya. Yang penting, tetap berjuang!! Daah..aku ke kelas dulu ya..”
               “Thengs.. siapa namamu?”
               “Diana!" Teriaknya.. (sambil berlari)
               Nafas yang terengah-engah membasahi wajah gadis lembut nan periang itu. Diana segera masuk ke kelas lukisnya yang sudah mulai belajar. Sambil menyapu keringatnya, teringat sahabatnya yang terbaring lemah.
               (Mungkinkah kami akan terus bersama?) dalam hatinya berkata.
               Ibu Tari masuk ke kelas tiba-tiba. Meihat Diana yang sedang melamun segera menghampirinya.
               “Diana, kenapa kamu?”
               “Ohh.. Ibu. nggak apa-apa bu.”
               “Kamu bohong, da masalah ya? Tidak biasanya kamu seperti ini!”
               “Ii..ia bu.”
               “Memangnya ada apa, sampai-sampai mengganggu pikiranmu seperti ini?’
               “Sahabatku, Lintang. Dia masuk rumah sakit dan sepertinya penyakitnya parah.”
               “Ohh,, Lintang ya. Gimana kalau sepulang sekolah kita menjenguknya” ajak bu Tari
               “Ibu mau menjenguknya? “
               “Iya,, nggak apa-apa kan?”
               “I..ya. nggak masalah.” Semangat Diana
               Ibu Tari adalah guru yang paling disukai banyak siswa. Tak kadang banyak siswa yang curhat. Beliau memiliki jiwa keibuan, walaupun beliau belum menikah. Beliau sangat perhatian dan mengerti perasaan orang lain.
               Ibu Tari memberi semangat Diana, membuat ia semangat pula bertemu Lintang. Ia menyelesaikan lukisan pemandangan dengan kuas kesayangannya. Kali ini, ia mendapat pujian dari teman-teman dan bu Tari. Sampai-sampai lukisannya akan diikutkan dalam pameran lukisan. Lukisannya menggambarkan eorang gadis berkerudung duduk di atas tebing tinggi yang dihantam ombak di tepi pantai. Lukisan itu pun dihiasi pantulan sinar matahari di penghujung hari. Gambarnya begitu nyata, dan membawa dalam khayalan. Diana dan bu Tari pun berangkat menjenguk Lintang.
Hanya mereka berdua yang masih berada di sekolah. Tak heran, suara mereka menggema ketika lewat lorong sekolah. Diana melepas pandangannya ke arah taman di samping lapangan basket. Ia sempat kaget ada seorang gadis duduk di atas potongan pohon. Ketika ia hampiri, ternyata gadis biola itu.
               “Hai, belum pulang?" Sapa Diana
               “Hmmn. Belum Diana’
               “Ngapain kamu sendiri di sini, Zy?” Sahut bu Tari
               “Lho, ibu kenal dia?” sahut Diana
               “Uta, ibu kan juga mengajar kelas musik. JadI ibu kenal Lizy”
               “Ohh, namamu Lizy ya?”
               “Iya,, ibu mau ke mana, kok sama Diana?”
               “Ibu sama Diana mau ke rumah sakit, jenguk sahabatnya Diana. Kamu mau ikut?”
               “Ya,, boleh. Ayo! Panasnya terik matahari sudah mulai membakar kulit nih..” ajak Lizy
               “Hhhhaha….” Sambung Diana

* * *
               Diana meletakkan sekeranjang buah yang di bawanya. Kebetulan, kapten tim basket mereka juga jenguk Lintang. Rasa tak percaya meliputi kedua sahabat ini. Dalam keadaan yang tak mudah untuk mereka bersenda gurau. Padahal, rame kan, semuanya pada kumpul.
               “Bagaimana keadaanmu?” kejut Lizy
               “Ya, lumayan lah, agak mendingan.” Dengan suara datar sambil menunduk.
               Lintang mengangkat kepalanya, dan…. “Haahh,, Lizy!” teriaknya
               “Bagaimana bisa kamu di sini Zy?”
               “Syukurlah. Tadi aku diajak bu Tari dan Diana. Dan ternyata, yang terbaring saat ini adalah sahabatku.”
               “Sebenarnya, kamu sakit apa sih?” sambung Diana
               “a..ku, sakit Leukimia..”
               Semuanya tercengang, tak ada seorang pun yang berani memulai pembicaraan. Termasuk kapten basket Deva yang langsung terdiam ketika ia memainkan dasinya..
               “Kalian tak usah khawatir, di sisa umurku ini aku tak akan membuat kalian kecewa”
               “Jangan bilang begitu, yakinlah kamu masih bisa bermain basket lagi..” sahut Deva
               “Yaa, teruslah bersemangat. Siapa yang tahu kan takdir Tuhan. Semoga kamu cepat sembuh.” Sambung bu Tari
               ( Lintang terharu mengingat dan menyimpan momen ini. Ia memejamkan matanya hingga butiran air menetes di pipinya). Semuanya merasa iba padanya, khususnya Deva teman basketnya yang justru tidak mau kehilangan main lawannya walaupun Diana dan Lizy merasakan halyang sama dengannya. Bu Tari memulai pembicaraan setelah semuanya membeku.
               “Hari mulai sore nih, kalian semua masih belum ada yang mau pulang?”
               “Belum bu, sebentar lagi.” Jawab mereka serempak.
               “Ya sudah, ibu pulang duluan. Cepat sembuh, ya Lintang. Jangan patah semangat, kasihan sahabat dan tim basketmu, pasti mengkhawatirkanmu. Asalamualaikum…” kata bu Tari
               “walaikumsallam.. Iya bu, makasih. Hati-hati ya bu..”
               Suasana berubah menjadi hening kembali..
               “Aku tak ingin kehilanganmu, Lintang. Selalu ingat kata-kataku…" (bisik Diana)
               “Kamu-Sahabat_Terbaikku” mereka serempak.
               Hari ini terasa cukup singkat. Membawa mereka dalam canda tawa dan kerinduan. Diana dan Lizy segera pulang membawakabar perih dan memandang dengan rasa tak percaya. Diana teringat akan lukisannya. Di dalam hatinya dia ingin menjual lukisan itu untuk biaya Lintang. Ia merasa iba melihat orang tua Lintang pergi bolak balik mencari uang.
               “Diana, ada apa denganmu?’ kejut Lintang
               “Tidak, kami harus pulang. Hari sudah mulai gelap nih”
               “ohh, ya. Besok mungkin aku sudah diperbolehkan pulang jika kondisiku stabil”
               “Cepat sembuh, ya”……

* * *
Di depan lukisannya, Diana duduk termenung sambil menulis di buku diarynya.

Malam ku sepi..
Tak sanggup ku mengungkapkan
Air mata membendung di kelopak mataku..
Walaupun aku tertawa, tapi aku tetap merasakan bila hati ini menangis melihat nya tersenyum. 
Jika Engkau mengizinkan. Takkan ku biarkan ia terbelenggu…
Kamu_sahabat_Terbaikku

               Ia simpan buku diarynya di tumpukkan buku pelajarannya. Diana memikirkan solusi untuk membantu Lintang. Iameluangkan waktu untuk melukis sebanyak-banyaknya untuk di jual tanpa sepengetahuan Lintang. Lizy yang baru dikenalnya juga turut membantu. Tak heran, ibunya Diana tiap hari selalu menyiapkan keperluanlukisnya. Malam semakin larut, Lizy yang juga tampak terlihat lelah memutuskan untuk menginap. Mereka terbaring di tempat tidur, namun tak ada salah satu dari mereka yang tertidur.mereka sama-sama ingin merencanakan sesuatu….

3 hari kemudian…

               Pohon-pohon yang menjulang tinggi disinari matahari yang masuk dicelah-celah dedaunan yang rindang. Diana dan Lizy sengaja membawa Lintang ke danau. Diana menggelar tikar, menyusun makanan, peralatan lukis, dan tempat mereka duduk. Sedangkan Lizy bersiap-siap di atas rumah pohon sambil memegang biola kesayangnnya. Namun dengan Lintang, ia justru merasa kebingungan dengan kedua temannya itu, sambil mengikik heran melihatnya.
               Diana memulai dengan memukul kedua kuasnya menandakan Lizy yang memainkan alunan biola yang merdu dengan lagu berjudul “semua tentang kita” sambil bernyanyi.

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati
Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita

Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat duu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kitaberduka saat kita tertawa

               Ketika lagunya selesai, tiba-tiba mereka semua terdiam sejenak. Suasana seperti di pemakaman, sepi, sunyi, hening, hanya hembusan angin yang terdengar. Diana membuka pembicaraan.
               “Dan aku baru ingat. Dulu ketika aku melukis sendiri di sini aku kagum dan penasaran siapa yang memainkan biola ternyata… itu kamu, Lizy!”
               “Iya,, tengs. Aku sengaja memainkannya karena semenjak aku tinggal di sini aku sangat kesepian. Dan ketika aku menemukan tempat indah ini, setiap sore di waktu luangku, aku bermain biola. Kebetulan, aku melihat seorang gadis sedang melukis.”
               “waah.. kalian sungguh hebat! Aku juga kagum pada kalian, kalian sendiri yang membuat acara ini dan kalian juga yang mendapatkan kejutan. Ketika pertama kali bertemu Diana, aku juga kagum atas sikapmu yang selalu memperdulikan teman-temanmu. Jika aku pergi nanti jangan lupakan persahabatan kita ini ya..”
               “Ah, kalian ini selalu membuatku GR. Tapi makasih ya atas pujiannya.ku yakin, kalian juga mempunyai keistimewaan masing-masing. Dan kamu Lintang, si cewek gadungan. Masa jiwa tomboymu yang tegar dipatahkan dengan adanya penyakit ini. Justru dengan ini kamu bisa bertambah tegar yang tahan bantingan.. hahaha.
               “Emang aku bola, tahan bantingan. Hahaha! Ketus Lintang
               Diana tak ingin membuat hati teman-temannya terluka, ia selalu mencoba untuk tersenyum walau di hatinya sangat mengganjal. Tak lupa, Diana melukis simbol persahabatan mereka “LiDiZy”. Dari kejauhan Deva sedang bersepeda mengitari danau, melihat tingkah mereka yang terlihat ekspresif dan penuh canda tawa. Tapa berpikir panjang, ia menghampiri ketiga cewek itu sambil membawa gitarnya dan langsung duduk di tikar.
               “Eh, kamu. Udah minta izin dengan yang punya belum? Sembarangan aja duduk.” Judes Diana
               “Kok gitu, sih Diana. Nggak apa-apa kok.” Bela Lintang
               “Coba deh kalian lihat, dia mau ngehancurin acara kita.” Sebel Diana
               “Eh kamu, bagai ratu aja. Lintang aja nggak keganggu. Sekali-sekali dong aku ikut gabung. Kan jarang-jarang bisa dekat sama cowok popular di sekolah. hitung-hitung kesempatan buat kalian.”
               “Ya sudah, cukup. Kita nyanyi bareng lagi yuk….” Lerai Lizy
               “Eh, ganti dong simbolnya jadi…(berpikir sejenak) “LiDiZyVa” kan lebih keren!” sahut Deva
               “Ah, kamu ini ada-ada saja. Semoga masih ada ruang untuk menulis namamu ya.. hahaha
               “hhuuhh…”
               Seharian mereka jalani untuk menghibur Lintang. Walaupun diantara mereka baru saling mengenal, tapi mereka seperti mempunyai kekuatan magnet. Hari-hari mereka selalu bersama.

* * *
               Waktu yang tepat ditemukan Diana dan Lizy untuk menjalani rencana kedua mereka. Mereka sudah mengatur strategi agar lukisan Diana laku terjual. Hampir 2 minggu penuh mereka meluangkan waktu untuk menjualnya. Uang yang terkumpul lumayan banyak, dan segera mereka berikan pada orang tua Lintang tanpa sepengetahuan Lintang. Deva yang biasanya sibuk dengan tim basketnya, akhirnya ikut membantu juga.
               Di waktu yang bersamaan mereka datang ke rumah Lintang secara tersembunyi, mereka melihat Lintang kesakitan sambil memegang perutnya. Kekhawatiran mereka tak dapat dibendung. Mereka segera membawa Lintang ke rumah sakit dan memberitahukan orang tuanya. Mengingat Lintang adalah anak semata wayang orang tuanya.
               Ternyata, penyakitnya bertambah parah. Sebenarnya, Lintang pulang dari rumah sakit karena keterbatasan biaya. Uang yang mereka dapatkan tidak cukup untuk membiayai semua pengobatan Lintang. Di tambah lagi ayah Lintang yang hanya memiliki tabungan seadanya, itu pun telah habis digunakan. Terpaksa, Lintang hanya bisa di opname tanpa harus membeli semua obat yang diperlukan.

* * *
               Setiap lorong sekolah kelas X ramai dipenuhi siswi yang mendengar kabar mengenai Lintang. Anak yang tomboy dan disenangi banyak orang.
               “Hai, Diana, Lizy. Gimana keadaan Lintang? Apa dia membaik? Kapan kalian mau menjenguknya lagi?” (pertanyaan runtun dari Deva)
               “Hello Deva, kalau nanya satu-satu dong. Kamu bukan mau wawancara kan?” jawab Diana
               “Emang, kami orang tuanya? Kami juga belum tahu keadaannya. Ayo kita jenguk aja sama-sama pulang sekolah” tegas Lizy
               Bunyi bel panjang bertanda telah berakhir jam pelajaran. Hujan yang tampak lebat, membuat para siswa harus menunggu sampai hujan reda. Tiba-tiba handphone Deva berbunyi, padahal peraturan sekolah dilarang membawa handphone, suara di seberang membawa berita buruk.
               Hujan yang lebat tak mereka perdulikan. Mereka lari basah-basahan menuju rumah sakit sambil menangis terisak-isak. Mereka sangat khawatir dan tak percaya bahwa kabar itu memang benar nyata. Sahabat mereka Lintang meninggal dunia. Nyawanya tak dapat tertolong lagi karena penyakitnya semakin hari semakin parah. Orang tua Lintang merasa kehilangan dan terpukul, namun semua adalah kehendak-Nya. Orang tua Lintang juga sangat berterima kasih pada Lizy, Diana, dan Deva. Menganggap mereka sebagai anaknya.

* * *

“Tak sempat ku berikan
Tak sempat ku sampaikan”
_LiDiZyVa_

Kalimat itu selalu melintas dipikiran Diana. Begitu pula Lizy dan Deva. Kerasa tak percaya, kehilangan, kerinduan, tersirat dibenak mereka. Mereka termenung di tepi danau sambil menyanyikan lagu “Semua Tentang Kita” yang biasa mereka nyanyikan.

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati

Belum sempat lagu itu dinyanyikan, butiran air mata membasahi di pipi ketiganya. Orang tua Lintang tiba-tiba dating dan ikut duduk di antara mereka. Memberikan semangat pada Lizy, Diana dan Deva bahwa masa depan mereka juga menjadi kebanggaan orang tua angkat mereka. Ibu Lintang tiba-tiba menyerahkan secarik kertas berwarna biru yang bergambar bunga. Tangan Deva bergetar ketika memegang kertas itu. Rasa penasaran membuat ia segera membuka dan membacanya seperti sedang lomba baca puisi.

Sahabatku impianku
Cita-citaku imajinasiku
Bukan hal yang salah memiliki mimpi
Bukan hal yang salah mempunyai tujuan
Tujuan seperti sinar
Kesana lah kita berlari
Dan untuk itulsh kita hidup
Tapi, terkadang sinarnya terlalu menyilaukan
Membuat kita sulit melihat
Sehingga tiba suatu saat kita harus sejenak berhenti
Untuk menghindari sinar yang ada pada kita sendiri

               “Waahh, sungguh bersemangatnya dia. Aku piker karena fisiknya lemah, jiwanya akan goyah. Tapi aku salah. Hebat!! Puji Diana. Sambil melanjutkan lukisannya.
               “Iya..”sambung Lizy sambil meneteskan air mata.
               Suasana menjadi hening kembali. Kemudian Diana berteriak girang sambil meneteskan butiran air mata yang melintas di pipinya.
               “Lukisan dengan simbol “LiDiZyVa” akhirnya selesai”
               “Waahh..keren.!”
               Mereka menatap terpesona lukisan yang melambangkan persahabatan ini yang terlihat indah karena di sekitar tulisan itu ada gambar wajah mereka masing-masing. Di danau inilah sejarah persahabatanku. Dan tempat inilah aku dan sahabatku berbagi walau hanya sekedar untuk mengenang Lintang.

SELESAI



Karya : Rica Okta Yunarweti
Alamat Fb : Richa Oktaa
e-mail : icaotana@yahoo.co.id
sumber :  http://cerpen.gen22.net/2012/02/cerpen-persahabatan-rinduku-kenanganku.html.
Semua Tentang kita
Karya Putri Ayu Paundan

Cerpen Cinta Sedih
Namaku natasya, aku pernah mencintai seseorang dengan tulus. Tapi, semua ketulusan cintaku padanya berakhir sia-sia.
“Natasya, jangan sedih terus dong. Senyuum.” kata sahabatku dewi sambil mencari tisu di meja rias kamarku
“gue gak bisa dew, gue ga terima dia ninggalin gue, pergi gitu aja tanpa pamit.”
Arya adalah seorang cowok yang sangat aku sayangi, dia pergi meninggalkanku tanpa alasan. Akupun baru tau kepergiannya setelah sehari dia pergi. Dia juga tak pernah mengabariku kenapa ia pergi. Yang ku tau, Arya harus meninggalkan sekolah lamanya bersamaku karna dia di tuntut kedua orang tuanya untuk tinggal di pesantren , tepatnya di daerah lampung. Akupun terpukul mendengarnya.
“sya, lo gak bisa terus-terusan mikirin arya kaya gini. Dia itu gamau bilang kepergiannya karna dia gamau liat lo sedih. Coba kalo dia tau lo sedih kaya gini. Gimana sya.”
“tapi gue kecewa banget wi, lo ga ngerti perasaan gue.”
Sehari sebelum arya pergi, teman-teman sekelasku sebenarnya sudah tau akan kabar bahwa arya akan pindah dari sekolah. Tapi arya melarang mereka semua untuk memberitahuku dan merahasiakan semuanya. Ini juga karena arya gak ingin buat aku bersedih. Tapi justru malah sebaliknya .
***

Seminggupun berlalu, aku masih belum bisa menerima semua ini. Disekolah rasanya sepi tak ada arya di sisiku yang biasanya setiap hari menyapaku, tertawa bersama. Arya juga tak pernah mengabariku dia menghilang begitu saja. Sampai sekarang aku belum bisa memaafkannya sebelum aku tau alasannya mengapa dia tak memberitahuku tentang kepergian dan kepindahannya ke lampung. Aku mencoba melupakannya tapi aku tak bisa, perasaan ini menyiksaku. Semakin aku mencoba melupakannya, semakin aku tak bisa menghapus kenangan Arya dari hatiku.
“sya, maafin gue ya gue gak bilang sama lo . sebenernya gue udah tau Arya mau pindah dari sekolah, tapi Arya ngelarang gue buat bilang sama lo, katanya dia gak mau buat lo sedih. Lo pasti bisa dapetin yang lebih dari dia. Itu pesan arya buat lo.” Kata eza sahabatnya arya.
Saat eza bilang semua itu kepadaku entah mengapa, hatiku gak bisa menerimanya. Aku menyayangi arya, hanya arya yang selalu ada di hatiku, dan dia yang terbaik untukku. Itu menurutku.
“lo jahat za, kenapa lo gak bilang sama gue dan harusnya lo tuh ngerti.”
“iya, maafin gue sya. Gue salah, tapi mau gimana lagi arya udah pergi dan asal lo tau sya. Dia sayang banget sama lo. Dia sebenernya gamau pindah, tapi karna desakan orang tuanya dia pindah ke pesantren.”
“ gue kecewa za sama dia. Kenapa dia gak bilang dari awal?”kataku lemas
Aku meninggalkan eza yang masih diam membisu diambang pintu kelasku. Aku gak mau mendengar semuanya lagi. Aku udah cukup kecewa dengan semua ini. andaikan waktu bisa berhenti berputar untuk saat ini, aku ingin kembali dan melihat arya untuk terakhir kali.
***

Pagi hari di kelas,
Seiring berjalannya waktu meskipun arya tak pernah mengabariku, dan mungkin dia sudah lupa denganku. Yaa, begitupun aku masih terus mencoba melupakannya. Hari-demi hari kujalani semuanya seperti normal dulu sebelum arya pindah dari sekolah ini. Aku hanya bisa mencoba untuk ikhlas dengan yang ku jalani sekarang. Andaikan ini semua mimpi, aku tak mau ini semua akan terjadi. Tetapi apa daya semuanya bukan mimpi, ini nyata.
“sya...” panggil seseorang dari tempat duduk belakang dan ternyata itu eza , dia berjalan menghampiriku
“apaan za?’’ kataku
“sya, kemaren arya chat gue nanyain lo.”
“terus?”
“kok terus?”
“iyaa, terus kenapa? Apa urusannya sama gue?”
“adalah ”
“apaan?” tanyaku sinis
“dia masi nungguin lo.”
“oh.” Jawabku singkat
“dih ngeselin nih anak, emang lo gamau tau kabarnya dia?”
“ah gatau gue, gue bingung sama dia , dia bilang sayang sama gue tapi apaan ninggalin gue gitu aja dan udah seminggu lebih gue gatau kabarnya.”
“yaa lo tanya lah kabarnya gimana?”
“ngapain ah za, gue cewek gengsi kali nanya ke cowo duluan.” Kataku agak jengkel
“gue bingung ama lo berdua, lo sama arya sama-sama sayang, tapi gak ada yang mau mulai duluan. Gimana kalian mau jadian kalo sama-sama gengsi. Cinta, tapi munafik. ”
“harusnya dialah, minta maaf enggak , kabarin gue juga enggak. Kalo gue disuruh milih untuk kenal sama dia atau gak, gue akan lebih milih enggak dari pada gue harus sakit hati kaya gini akhirnya...gue malah kecewa banget.”
“yaaa, kemaren dia nanyain kabar lo, ya gue jawab lo sedih banget dia pindah.”
“lo jujur amat si za, aaaah tau deh.”
***

Hari terus berganti, meninggalkan semua kisah yang ada begitupun kisah ku dengan arya , aku bertekat untuk melupakannya. Aku udah cukup kecewa dengan semua ini. Setiap kali aku berdoa, mendoakannya untuk kembali bersama ku lagi seperti dulu tapi itu semua tak mungkin. Aku memang mencintai arya, tetapi tak pernah arya jujur akan rasa sayang dan cintanya kepadaku, selalu eza yang bilang kepadaku setiap kali arya curhat kepadanya. Aku bingung dengan semua ini, mencintai seseorang tanpa sebuah kepastian yang pasti.
Tuhan..... jika memang dia yang terbaik untukku, jagalah dia disana tuhan...
Jagalah hatinya untukku, dan jagalah hatiku untuknya...
Aku disini hanya bisa mendoakannya, melihat nya dari kejauhan...
Ini berat untuk ku jalani Tuhan... jauh dari seseorang yang aku sayangi.....
Aku menyayangi dan mencintainya... tabahkan hatiku Tuhan...
Tuhan .. hanya satu pintaku, jagalah iya saat aku jauh dari sisinya.... :’)
Setiap malam setiap ada kesempatan aku berdoa dan menangis, akankah cintaku padanya akan kembali seperti dahulu menjalani hari-hari dengan penuh canda maupun tawa. Cinta ini membunuhku...kau adalah mimpi takkan pernah ku gapai.
***

Sebentar lagi liburan semester tiba, 6 bulan sudah berlalu. Sebenarnya momen-momen itulah yang selama ini ku tunggu. Karna liburan sekolah Arya pasti pulang ke Jakarta dan ada kemungkinan kita akan bertemu lagi. Tetapi , mendengar kabar kalo Arya pasti akan pulang ke Jakarta hatiku biasa saja. Tidak ada getaran-getaran seperti dulu saat aku bersamanya, mungkin karena selama 6 bulan ini aku sudah terbiasa tanpanya, yaa meskipun awalannya aku sangat terpukul dan kecewa juga sedih. Tapi sekarang aku sudah mempunyai seseorang yang bisa menggantikan hati Arya di hatiku yaitu Aka sudah 6 bulan juga aku mengenalnya. Aka datang di kehidupanku ketika hatiku sedang hampa dan kosong tanpa arah. Dia menyembuhkan luka di hatiku, awalnya aku memang tak bisa melupakan Arya karna bagaimanapun juga Arya akan selalu tinggal di hatiku. Saat kepergian Arya, Aka lah yang selalu menemani hari sepiku selama 6 bulan aku mengenal Aka, bagiku dia adalah seorang cowok yang baik , pengertian, dan sabar. Sudah 3 kali Aka menyatakan perasaannya padaku , tetapi tak pernah ku jawab aku hanya bilang kepada aka kalo aku masih mengejar sesuatu. Aka pun mengerti, walaupun dia tak pernah tau aku masih menunggu seseorang , yaitu Arya. Dan Aka masih setia menunggu hatiku. Dan akupun janji akan menjawabnya, aku menerima cintanya atau tidak saat ulang tahun Aka nanti.
***

Pagi di sekolah,
“besok kita bagi rapot sya.” Kata dewi sahabatku
“iya , gue takut nih jadinya masuk jurusan apa wi.”
“udah yakin lo pasti IPA. “
“yaa mudah-mudahan aja kalo kita bisa satu kelas lagi, lo IPA dan gue juga.”
“amiin.”
“haaai semua.” Sapa eza sambil duduk di sebelahku
“apaan si za, JB JB aje.” Kata ku
“hahaha.... lagi ngomongin apaan si? Serius amat?” eza tertawa pelan
“jurusan za...” kata dewi
“oh gitu yaa... lo pasti mah IPA, kalo gue sih maunya IPS.”
“yaa amin-amin mudah-mudahan kita masuk yaa.” Kataku
“iyaa amin .” kata mereka berdua
“eh sya, btw gimana perasaan lo sekarang sama Arya?”tanya eza kepadaku
“yaaah, lo ngomongin Arya lagi.” Jawabku lemes
“dia selau nanyain keadaan lo sama gue sya, ya gue jawab lo baik. Arya juga bilang kenapa dia gak nembak lo. Katanya dia , dia gamau nyakitin lo lagi emangnya lo mau pacaran jarak jauh sama Arya? Arya takut lo nolak dia, kalopun lo nerima dia, kasian elo nya arya gak pernah ada di samping lo . lo tau kan pesantren gimana? Dia pulang juga pas liburan.”
“yaaa.. gue tau. Status menurut gue gak penting. Yang gue mau komitmen za. Kepastian. Dia sayang sama gue tapi dia gak pernah bilang ataupun jujur sama persaannya sama gue. Gimana gue mau percaya sama dia, bisa aja kan dia pacaran disana atau udah punya cewek pengganti gue? Gue yakin za. lagian 6 bulan udah berlalu. Gue mungkin bisa lupain dia, tapi gue gak akan bisa ngelupain semua kenangan tentang kita”
“oh iya, liburan dia kesini sya. Dia pengen ketemu sama lo.”
“gue gamau lah za, udah cukup yang dulu2 gue gamau nantinya keinget dia lagi. Sekarang gue udah punya yang lain, meskipun gue belum jadian sama dia. Tapi kita udah deket semenjak Arya ninggalin gue.”
“siapa?” tanya eza
“aka namanya za, dia ganteng putih jago main basket dan juga jago futsal.” Kata dewi yang menambah pembicaraan suasana menjadi semakin hangat
“serius lo sya?” tanya eza tak percaya
“iya, gue serius dan suatu saat kita pasti akan jadian.” Kataku padanya
“jujur nih gue sya sama lo Arya disana banyak yang nembak dan banyak yang sukain. Lo mau tau semua cewek yang nembak dia banyak, terus dia tolak. Adapun anak SD nembak dia, dan katanya mirip sama lo.”
“terus di terima?” kata dewi sahabat ku, yang duduk di sampingku sembari membaca novel
“gue belom tau kabarnya. setau gue sih dia belum jawab mau nerima tu cewek apa enggak.”
# Bel pun berbunyi
***

Pagi hari,
Hari ini adalah hari yang ku tunggu-tunggu mama ku sudah bersiap-siap untuk mengambil rapotku. ketika sampai di sekolah , aku berpapasan dengan eza. eza tak melihatku mungkin dia gak sadar seseorang yang berpapasan dengannya itu aku. Setelah pembagian hasil rapot selesai ternyata alhamdullilah akhirnya aku masuk jurusan IPA, jurusan yang selama ini aku cari dan sudah aku rencanakan.
“sya, tar abis bagi rapot main yuk.” Kata sari teman dekatku
“okeey, siapa aja?” tanyaku
“banyak lah. Pokoknya.”
“okedeh.”
“lo udah bagi rapot?” tanyanya
“udah nih,”
“wesss... ipa nih ye. Slamet yaa.”
“lo emang belom?” tanyaku
“belom, tar abis ini.”
“oh okey, emng kita mau main apa?”
“main UNO aja, hehe lo bawa uno?”
“kagak sii, yaudah gue balik dulu yaa..tar samper gue aja.”
***

Siang hari,
“natasya, ayok berangkat main.. anak-anak udah pada ngumpul. Jangan lupa uno nya.”
Aku naik motor di jemput oleh teman dekat ku sari. Setelah beberapa menit sampai di rumah sabi, akhirnya kita semua main UNO
“sabi, si eza gak dateng?”
“gatau sya, katanya mau pergi.”
Sabi adalah teman deketku juga , karna rumahnya adalah basecame kami, tempat kami berkumpul dan bercanda bareng
Tak lama sambil kita memainkan UNO , ada suara motor berhenti di rumah sabi. Ici temen ku keluar dan membuka pintu. Ku lihat dari arah jendela ternyata eza, tetapi disana ada seseorang lagi. Memakai helm dan sepertinya aku mengenalnya, Cuma dari jendela tidak terlalu kelihatan. Seseorang itu melepas helm nya dan ternyata... OMG ! batinku...... ternyata seseorang itu adalah...
“sya, ada Arya tuh.”
“hah ? serius lo sab?”
“iya serius gue, tuh anaknya kesini kan.”
Oh Tuhaan.... apa salahku, aku tak ingin bertemu dengannya. Tetapi sekarang kita malah di pertemukan. Apa ini takdirku Tuhan.. untuk bertemu dia lagi. Deg..... tiba-tiba saja terasa jantungku berhenti, getaran ini sudah lama tak kurasakan. Sangat berbeda sekali bila aku dekat dengan aka, tidak ada getaran seperti ini. ada apa ini?” batinku
“sorry sya, dari awal kita semua sudah ngerencanain ini, untuk nemuin lo sama Arya.”
Aku dan arya hanya tersenyum tipis. Tapi aneh sikapnya Arya, dia bener-bener berubah. Dia tak menyapaku. Bahkan menegurku itupun tidak. Apa yang terjadi Tuhan batinku. Apa dia sudah menemukan yang lain? Entahlah.... selama kita semua ngobrol, tetapi aku dan arya tidak juga saling tegur sapa, kenal.. tapi kaya ga kenal.. Arya seperti orang asing dalam hidupku.
“sya, arya kalian berdua diem aja..” ledek mereka
“ayodong kangen-kangenan apa kek gitu?” kata ici teman dekatku yang juga ikut meledek
“tau lo ya, udah ada orangnya malah di cuekin. Giliran ga ada malah nyariin.”ledek eza
“apaansih lo za, gajelas.” Jawabku sinis
“yee lo berdua tuh cinta, tapi munafik. Sama-sama cinta tapi malu-malu gak ada yang mau mulai duluan. Gininih jadinya cuek-cuekan kalo ketemu.”
Kenapa harus gue yang mulai duluan apa musti gue yang negur duluan? Siapa yang buat salah ? gue kah? Atau dia? Yang ninggalin gue siapa? Yang buat gue sedih siapa? Yang buat gue kecewa dan sakit hati siapa? Harusnya lo sadar Arya ! batinku meringis.
“yaudah lah za, kalo mereka emang mau diem-dieman.” Kata sabi
Aku hanya tersenyum ke arah mereka yang menatapku juga Arya. Setiap kali aku memergoki arya melirikku, dan aku juga meliriknya batinku nangis apa iya arya gak kangen sama aku, atau minta maaf? Tapi apa nyatanya... itu tidak sama sekali !! yang ku lihat dari sorotan matanya masih ada cinta dan rindu dihatinya. Akupun merasakan itu. Tatapannya, masih seperti dulu, dingin tetapi penuh arti dari sorotan matanya penuh keteduhan. Andai saja tatapan ini bisa membunuh, mungkin aku sudah terkapar olehnya.
Akhirnya kita semua main UNO , mainan yang biasa kita mainin kalo gak ada mainan yang bisa dimainin . kita anak SMA tetapi masih main kartu UNO, yaa walaupun UNO buat semua umur. Eza pun membagikan kartu UNO nya. Dan kita semua main. Ternyata seiring berjalannya waktu, pertama sari keluar menang, disusul sabi, disusul eza, dan yang terakhir ici, yang salalu main UNO keringetan. Main UNO aja kok keringetan? Dan yang tersisa hanya aku dan aray. Permainan semakin menegang. Belom ada kepastian siapa yang menang aku ataupun aray.
“ayodong menangin sya.” Teman-temanku menyemangatiku. Begitupun aray yang sibuk dengan kartu-kartunya .
“udeh lo pasti menang deh ray.” Kata eza yang malah membela aray di banding aku
“eh belom tentuu.” Kataku , daaaannnn.....
“UNO ! “ aray mengucapkan kata itu bentar lagi dia menang karna kartunya tinggal satu 4+ ternyata.”
aku pun kalah saat permainan itu. Tapi taapalah ini hanya sebuah permainan, akhirnya kita semua tertawa bersama.
bahagia itu sederhana ... walaupun aku dan aray tak saling tegur sapa bahkan saat bermain aray tak juga menatapku. Tetapi dengan melihat aray tersenyum atas kemenangannya padaku. Aku sudah senang.” #Bahagiaitusederhana aku mungkin saja melupakanmu ketika kau pergi, dan jauh disana..tetapi cinta, perasaan kembali ada ketika kau datang
waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Karna hari sudah sore akhinya kita semua memutuskan untuk pulang. Pertemuan yang sangat singkat antara aku dan juga Aray. Sampai pulang kita berdua juga gak ngobrol dan saling cuek-cuekan. Yaa... itulah aray dingin dan sangat cuek
***

Malam ,
Aku masih teringat pertemuan singkat tadi siang. Ini semua seperti mimpi ataukah aku bermimpi?? Sambil memeluk boneka dan tepar di atas kasur aku memutar kembali saat 6 bulan yang lalu , saat aray meninggalkanku, dan pergi begitu saja tanpa kabar. Dan sekarang dia ada disini menemuiku. Aku tak mengerti apa maksudnya
dret.. dret... ponselku bergetar, tanda sms masuk dan ternyata itu dari Aka.
“natasya.. malem.. apa kabar?”
“hei, baik kok Aka.”
“oh gitu syukur deh.”
“besok bisakan dateng kerumah Aka sya?”
Ya Tuhan.. aku lupa besok tanggal 26 adalah hari ulang tahunnya Aka. Untung saja aku sudah menyiapkan kado untuknya jauh-jauh hari.
“okey, besok natasya dateng kok.”
“mau aka jemput?”
“okeh” diakhiri percakapan pendek itu di sms dan akupun tertidur
***

Esok hari,
Jam 10:00 aka sudah sampai di depan pager rumahku. Aku pun pergi kerumahnya di boncengin naik motor satria nya. Di perjalanan dan di pikiranku kosong, entah apa yang aku fikirkan dan akhirnya setelah beberapa menit di perjalanan kita pun sampai di perumahan blok A rumahnya Aka, disana sudah banyak temen-temennya yang berkumpul. Juga sahabat ku putri.
“ka. Ini kado buat kamu.”
“yaampun natasya, pake repot-repot.”
“yaa.. gpp kkok.”
Kado yang aku berikan untuk Aka adalah angsa-angsaan biru hasil karya ku sendiri, juga striminan yang bertulisan namanya dan hari ulang tahunnya
“Heemm ikut aku bentar yuk,” tanganku di gandeng aka ke arah taman komplek dekat rumahnya. Aku tak mengerti apa maksudnya. Terlintas tiba-tiba di fikiranku. Aku lupa kalo aku berjanji akan menjawabnya iya atau tidak untuk menjadi pacarnya.
“heem.. mau ngapain ya ka?” tanyaku terbata-bata aku masih tidak tau harus menjawab iya atau tidak untuk menerimanya.
“adadeh.” Jawab aka
Sesampainya di taman yang indah dan penuh bunga berwarna-warni disana terpampang bunga matahari yang menjulang tinggi juga pohon anggur di sekeliling taman. Di temani teman-teman aka juga putri sahabatku. Karna dialah aku bisa kenal dengan aka, setelah kepergian Arya 6 bulan yang lalu. Di tengah lapangan Aka melepaskan gandengannya.
“natasya, bagaimana dengan jawaban kamu ?”
“jawaban? Jawaban apa?” aku pura-pura tak ingat
“jawaban, apa kamu nerima aku? Atau tidak.”
Jleeeeeeebbbbb................
Ternyata Aka benar menagih janji itu. Aku tak tau kenapa bisa jadi begini. Awalnya aku memang sudah hampir bisa MOVE-ON dari arya, tapi apa? Arya datang kembali di kehidupanku. Menemuiku walaupun itu tidak sengaja bertemu. Tapi apa daya, Aka cowok yang selama ini 6 bulan aku gantungi perasaannya masa iya aku tolak. Cinta diantara dua hati itu tidak mungkin! Aku mencintai arya juga aka..
“natasya, kok diem?” tanya aka
“hah? Iya...apa?” kataku terbata-bata
Temen-temen aka yang menonton dan menyaksikan itu mereka semua menyoraki kita berdua... terima...... terima....... aku bingung saat itu.
“kamu nerima aku atau tidak natasya... aku sayang kamu.” Di raih nya tanganku
Setelah beberapa menit aku berfikir, akhirnya
“iya Aka, Aku terima.”entah apa yang ku fikirkan tak sengaja aku mengucapkan kata-kata itu, terlambat sudah......
Yeeeeyyyy jadiaaaaan sorak mereka tambah ramai. Orang-orang yang ada di area taman bingung karena saat itu teman-temannya aka berisik dan rame. Meskipun saat itu aku malu. Aku memutuskan untuk menerima aka karna aku juga suka sama dia , walaupun aku masih mengharapkan arya untuk menjadi kekasihku. Tapi itu semua tidak mungkin , arya hanyalah mimpi bagiku takkan pernah ku memilikinya.
“makasih natasyaaaa..... ini boneka taddy bear buat kamu”
“iya... makasih yaa aka.”
Aku tak menyangka akhirnya aku jadian juga sama aka, bertepatan dengan ulang tahunnya. Dia memberiku boneka taddy bear berwarna warna pink, Teman-teman aka juga memberi memberi selamat ke kita berdua. Taman itu menjadi saksi cinta kita berdua.
***

Kejadian kemarin telah berlalu. Kini aku sudah menjadi milik orang lain . aku mungkin bisa belajar untuk menyayangi aka, namun mungkin tak sepenuhnya karna aku masih mengharapkan cintanya arya entah sampai kapan.
Baru sehari kami berdua jadian, berita itu sudah menyebar sampai ke kuping teman-temanku terutama arya. Arya sudah mengetahui kalo aku sudah jadian , arya pun syok mendengar kabar tersebut yang datangnya dari eza. Eza adalah sahabatku sekaligus sahabat dan teman curhatnya arya . jadi apapun yang terjadi denganku pasti eza tau, dan bakal lapor ke arya.
Ponselku tiba-tiba berdering , ternyata ada tlp dari ici sahabatku.
“halo?” sapanya
“iya ci, tumben tlp ada apa?” tanyaku
“gpp, Cuma mau mastiin aja.”
“apa?”
“lo beneran jadian sama aka? Cowok yang sering lo ceritain itu ke gue?.”
“iya ci.”
“selamet ya sayang.”
“eh iya makasih.”
“oh iya, arya udah tau lo jadian?”
“udah, sepertinya dari eza.”
“iya, gue juga tau dari si eza . Kirain itu boongan ternyata beneran.”
“iya, itu semua bener. Gue jadian kemaren tanggal 26 pas ulang tahunnya ci.”
“hmmm... lo udah tau kalo arya nyusul jadian setelah lo jadian sama aka?”
“apa..?” Aku tersentak kaget . tak sengaja ponselku ku banting ke arah tempat tidur, dan untungnya tidak ke lantai, ku ambil lagi dan kudengarkan apa yang sebenarnya terjadi.
“halo sya?”
“ya maaf, tadi hp gue jatoh. Gue kaget abisnya.” Jantungku tiba-tiba saja terasa sesak dan sakit entah kenapa , aku tak mengerti
“jadi gini, hari ini arya jadian sya”
Deeeg......serangan itu kembali ada
“gak, gue gak tau? Emang dia hari ini jadian? Sama siapa?
“sama anak sana yang katanya mirip sama lo, namanya evina.”
“evina? Semoga dia bahagia.” Ku akhiri percakapan itu , walau singkat tapi menyakitkan bagiku.
sungguh aku tak percaya, dan hari ini tanggal 27, ternyata hari ini jugalah arya jadian sama pacarnya evina. Aku tak mengerti apa maksudnya aray dengan semua ini. Ataukah evina yang katanya mirip denganku itu Cuma sebagai pelampiasannya saja?ataukah arya bener-benar menyayanginya? Entahlah.
Kini semuanya tlah berakhir, meskipun aku tak mengerti jalan fikirannya arya. Tetapi aku yakin, dihati kecilnya arya meskipun sedikit saja, dia masih menyisihkan tempat untukku dihatinya dan menyimpan namaku dihati kecilnya.. begitupun aku, meskipun aku sudah mempunyai seorang kekasih , dan dialah yang membuatku menyadari. Menunggu itu tidak enak, apalagi orang yang kita tunggu gak pernah mencoba untuk meraih kita.sungguh menyakitkan. Mungkin arya sama sepertiku, menjalani semuanya tetapi tidak apa yang dia inginkan.
***

Tiba-tiba saja ponselku bergetar ternyata tlp masuk .
“halo?natasya?Sya, hari ini arya mau pulang.”
“pulang?” ternyata sms itu berasal dari sari yang juga teman baikku
“iya pulang, padahal dia baru sebentar di jakarta. Malah belom sempet kangen-kangenan kan sama lo? Eh tapi gak deh lo berdua kan udah sama-sama punya pacar. Tapi gue sih yakin pasti lo berdua masi saling ngarepin iya kan?”
“gak usah nyindir gitu deh sar.”
“haha.. iya maaf” sari tertawa pelan
“oh iya , lo tlp gue Cuma mau ngasi tau kalo dia pulang?’’
“yaa.. gue sedih banget dia hars pulang dan katanya gak akan balik lagi.”
Deeegggg........... tiba-tiba saja air mataku mulai jatuh perlahan setelah mendengar kabar itu dadaku terasa sesak dan saat ini sulit untuk bernafas
“syaa?” panggilnya
“natasya? Lo gak apa-apa kan? Diem aja?”
‘’eh iya sorry apa tadi yang lo bilang, gue gak denger.”
“arya mau pindah dan tinggal di lampung selama 3 tahun. Dia gak akan balik lagi dan pastinya rumahnya yang disini mau di kontrakin.”
“apa?”
“iya bener, eh udah dulu yaa byee..
Sari mengakhiri percakapannya , aku tak mengerti dengan semua ini.. lagi-lagi arya pergi dan ninggalin aku untuk kedua kalinya, tapi ini berbeda dia gak akan kembali. Ini semua tak mungkin. Ku putar lagu pasto aku pasti kembali, dan lagu itu yang menjadi lagu kita berdua dulu. Teringat aku dan arya sering menyanyikan lagu itu berdua.. di pekarangan sekolah sambil memainkan gitar
Reff : aku hanya pergi tuk sementara..
bukan tuk meninggalkanmu selamanya..
aku pasti kan kembali, pada dirimu.. tapi kau jangan nakal, aku pasti kembali..
aku pasti kembali.........
***

Pukul 06.00 pagi,
Aku terbangun dari tidurku, aku tak bisa berhenti menangis tadi malam, mungkin sebabnya mataku sembab dan layu seperti ini. aku tak mengerti mengapa aku menangisinya. Aku tak mengerti apa yang ku tangisi. Cintanya? Ataukah karna arya yang ingin pergi? Entahlah..aku tak mengerti..Seharusnya aku seneng arya pergi dan gak akan kembali lagi, tapi apa nyatanya? Aku malah seperti ini, seharusnya aku sadar aku sudah mempunyai seseorang kekasih begitupun arya.... Aku juga tak mengerti perasaanku gelisah tadi malam, tadi malam aku juga melihat arya tapi aku , aku tak ingat dia ada di mimpiku? Atau dia datang tadi malam. Yang ku ingat dia datang memakai baju putih dan dia tersenyum padaku, dia memegang tanganku dan berbisik. Jangan sedih, karna arya akan selalu ada dihati kamu. Dan kamu selalu ada di hati arya.. mungkin arya gak akan pernah kembali.
Dret..dret.. hp ku berdering, ternyata ada tlp dari eza aku pun cepat-cepat mengangkatnya..
“sya, udah bangun??’’
“ada apa?gue baru aja bangun.”
“lo udah tau kan arya pergi?”
“iya , gue udah tau dari sari dia yang ngasih tau gue kemaren malem.”
“suara lo kenapa?”
Mungkin suaraku begini adalah efek tangisanku tadi malam , aku tak bisa tidur.. hanya arya yang aku fikirkan tadi malam.
“hah? Suara gue? Gpp, gue lagi sakit tenggorokan biasalah radang.
“bohong, lo pasti abis nangis ya?”
“enggak.” Aku memang berbohong sama eza, karna aku tak ingin kawatir.
“ada apa tlp gue pagi-bagi begini? Tumben?’
“iya, gawat sya penting gawat. Arya barusan aja masuk rumah sakit.”
“apaaa?” aku tersentak kaget dan mataku kini sudah tak mengantuk lagi
“iya udeh lo cepetan mandi. Cepet nanti lo gue anter kerumah sakit gue jemput.”
Aku segera mengakhiri tlp, aku bergegas untuk mandi. Dan setelah aku selesai mandi, dan siap untuk berangkat , tiba-tiba saja terdengar bunyi motor depan pagar rumahku, ku lihat dari jendela ternyata itu eza, aku cepat keluar dan pamit tidak sempet sarapan pagi
“za, ceritain ke gue plis.”
“udah cepet naik , nanti gue ceritaiin di jalan.”
Aku segera naik dan meninggalkan rumah. Aku pergi dengan hati yang cemas, selama di perjalanan aku hanya diam dan diam.
‘’sya, jangan diem aja .”
“jelas aja gue diem.”
‘‘ini adalah bukti kalo lo masih sayang banget sama arya, iya kan?”
“gak. Gue Cuma khawatir” kataku ngeles
“Khawatir? Kalo lo Cuma kawatir, gak akan lo mau pagi-pagi kaya gini disuru kerumah sakit buat liat keadaan arya, padahal lo sendiri udah punya cowok. Tapi lo sendiri malah ngawatirin arya di banding cowok lo”
“jelasin ke gue kenapa arya?”
Hening........ aku tak mengerti kenapa suasana menjadi hening.. keadaan pagi yang dingin ini menusuk tubuhku
“eza?’’ panggilku
“eza, arya kenapa?’’ panggilku sekali lagi cemas
“dia... dia.. “
“dia? Dia kenapa zaa.”
Eza tak juga menjawabnya, setelah setengah jam di perjalanan, tak terasa kita sudah sampai dirumah sakit. Setelah eza memarkirkan motornya, aku dan eza langsung pergi menuju ruang kamar tempat arya dirawat. Aku dan eza melihat teman-temanku sudah rame dan berkumpul di ruang kamar arya, aku tak mngerti mereka semua menangis sampai isek-isekan. Apa yang terjadi? Aku tak mengerti . tiba-tiba saja ditengah kerumunan mereka yang sedang menangis, aku melihat seseorang memakai baju putih keluar dari arah pintu kamar rumah sakit tempat arya dirawat. Aku diam dan tak menghampiri seseorang itu. Ku lihat eza sudah tidak ada disampingku. Aku seperti mengenalnya, wajahnya pucat, lesu, dan dia tersenyum kepadaku. Dia itu arya? Apa dia itu arya? Dia tersenyum padaku? Tapi aku heran mengapa mereka semua masih menangis? Sedangkan arya? Dia baru saja kluar dari arah pintu dan tersenyum padaku.... tiba-tiba saja saat aku ingin menghampiri seseorang itu, seseorang itu hilang? Hilaaaang????? Iya, tiba-tiba saja hilang. Aku tak mengerti kemana bayangan itu pergi.
“natasyaaaa..... “ tiba-tiba ici menghampiriku dan memelukku
“ada apa? kok lo nangis?” tanyaku heran, ici masih saja menangis di pelukanku
“arya syaaa... arya.....gue gk percaya dengan semua ini, padahal waktu kemaren kita abis ngmpul bareng.. gue gsk percaya!”
“arya kenapa? Dia baik-baik ajakan? Barusan gue liat dia keluar kamar dan dia senyum sama gue, tapi anehnya dia langsung pergi dan hilang gitu aja pas gue mau nyamperin dia.. yaa.. barusan .” kataku polos tak mengerti
“apa? “ ici menatapku
“iya seius gue gak boong tuh barusan dia kesana” aku menunjukkan ke arah bayangan itu pergi
“arya itu udah gak ada natasya, dia pergi ninggalin kita semua.. bukan untuk pergi dan tinggal di lampung, tetapi dia pergi untuk selamanya.”
“gue gak ngerti, jelas-jelas gue barusan liat dia.”
“ikut gue,” di tariknya tanganku masuk ruang kamar arya
“lihat,dia udah gak ada, gue gak sanggup dengan semua ini.”
“aryaaaaa... aku menghampiri arya yang terbaring lemas dan kaku, juga pucat dan tangannya begitu dingin.”
“arya, bilang ke gue kalo ini gak bener. Aryaaa buka mata lo, bilang kalo ini gak bener. Kenapa lo gak mau buka mata lo , aryaaa plis.” Aku tak bisa menahan tangis
“arya, plissss arya gue mohon, jangan ninggalin natasya dengan cara seperti ini natasya gamau ditinggal arya, natasya sayang banget sama arya. Arya bilang, kalo ini bohong, tangan arya dingin banget, arya sakit? Arya kedinginan? Tadi arya baru aja senyum ke natasya aryaaa bangun.”
Saat itu aku tak bisa menahan tangis, tangan arya saat itu dingin banget semua itu bisa ku rasakan. Tetapi dokter langsung membawanya, ku lihat terakhir kali arya tersenyum padaku, ini mimpi? Katakan ini mimpi padaku.
“natasya?’’ seseorang menarik tanganku, entah itu siapa dia langsung memelukku
“ikhlasin dia natasya, dia udah gak ada jangan menangis terus, ikhlasin dia.”
Aku tak bisa menahan tangis, aku sekarang rapuh, aku tak bisa apa-apa dengan kenyataan pahit ini. batinku
“ikhlasin dia natasya, ini semua demi kebaikannya.” Aku masih terhanyut dalam susana dan juga didalam pelukan seseorang itu, ketika aku membuka mata ternyata seseorang itu adalah aka, pacarku yang juga ada disana.. menyaksikan itu semua
“ayok kita keluar, aka jelasin semuanya.”
Teman-temanku masih saja menangis, dan juga ku lihat eza sepertinya dia juga sangat terpukul. Aku mengerti perasaan eza, dan juga teman-temanku semuanya.
Ternyata, aka membawaku ke kursi taman belakang rumah sakit.
“aka udah denger semuanya sayang.”
“maafin natasya, maafin natasya.” Kataku pelan
“gk usah minta maaf, justru aka yang minta maaf sama kamu. Mungkin kalo kamu denger ini semua kamu nantinya bakalan benci dan marah sama aka, pacar kamu.”
“kenapa kamu ngomong gitu?” tanyaku tak mengerti
“kamu tau? Kamu ingat 6 bulan yang lalu pas arya pergi ninggalin kamu tanpa pamit?”
“iya aku ingat?”
“dia itu pergi ninggalin kamu karna dia sakit, bukan karna dia sekolah di pesantren juga. Dia Cuma nyari alesan yang masuk akal.Selama itu dia pergi untuk berobat kesana-sini. Tapi itu semua gagal. Pengobatan itu sempat berhasil, tetapi tidak berlangsung lama.”
Hening..... aka melanjutkan ceritanya
“selama dia pergi untuk tinggal di lampung, dia bilang kalo dia pindah ke pesantren.. padahal tidak sayang.. dia pergi bersama orang tuanya untuk berobat. Dia punya penyakit jantung. Kemaren pas kamu main sama dia sama teman-teman kamu ,mungkin saat itu keadaan arya sudah pulih tetapi , arya drop dan harus pulang dan pindah ke lampung selama 3 tahun untuk menjalani pengobatan. Orang tuanya arya terpaksa pindah kesana, karna tidak mungkin bolak-balik dengan kondisi arya seperti itu lampung-jakarta itu lumayan jauh.”
“selamaya 6 bulan, arya menitipkan kamu ke aku. Karna aku sahabat baik arya sejak kecil. Hanya aku yang tau tentang penyakitnya,selain keluarganya sel. Maafkan aku, natasya... seharusnya dari awal aku jujur sama kamu. Pas kita jadian tanggal 26 kemarin, arya mengetahui kabar itu. Awalnya aku gak enak sama dia, tapi aku bener-bener sayang dan tulus sama kamu itu semua aku lakuin untuk ngejagain kamu. Pas arya tau kita jadian, dia pesen sama aku , supaya kamu suatu saat nanti dia udah gak ada, kamu harus bisa ngikhlasin dia. Ini semua demi kebaikannya natasya.ini semua udah ada yang ngatur”
“Tadi aku juga menemaninya sbelum ajal menjemputnya. Dia berpesan padaku sayang, katanya dia minta maaf sama kamu dan teman-teman kamu juga. Karna dia gak mau buat kamu sedih juga semuanya. Tadi aku juga udah cerita ke semua teman-teman kamu dan tadi aku suruh eza jemput kamu. Maafin aku terlambat ngasih tau kamu.”
Tangisku semakin tak terkendali, aku tk bisa menahan semuanyaa.... ini semua telah berakhir, dan akupun kini harus membuka hatiku untuk orang lain
“ aku gak marah sama kamu, aku juga ngerti kalo misalnya aku ada di posisi kamu saat itu. Aku ikhlasin , walaupun aku masih sakit dan sangat terpukul.”
“ya, seharusnya kamu bersikap seperti itu sayang, itu semua udah tuhan yang atur. Kita sebagai umatnya hanya bisa sabar, ikhlas, dan menerima.”


Tuhan... jika ini semua sudah menjadi jalan takdirku,aku ikhlas Tuhan...
Tabahkan aku , berilah tempat yang nyaman disana buat Arya Tuhan...
Sayangi dia, dan meskipun Arya sudah tidak ada di dunia ini. tapi aku masih tetap menyayanginya... sampai nanti ku menutup mata...

SELESAI

Biodata penulis : Putri ayu pasundan
FB : Puteri Pasundan

sumber :  http://cerpen.gen22.net/2012/08/cerpen-cinta-sedih-semua-tentang-kita.html