Penulis: Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin
Bercita-cita Tinggi dalam Menuntut Ilmu
Ini adalah perkara yang penting bagi
para pelajar dalam menuntut ilmu, yaitu hendaklah dia mempunyai tujuan
dalam belajarnya, bukan sekadar menghabiskan waktu di bangku sekolah,
tetapi hendaklah seorang pelajar itu mempunyai cita-cita. Dan di antara
cita-cita yang paling mulia adalah agar dengan ilmunya ia menjadi imam
yang memimpin umat Islam di bidang ilmu pengetahuan, dan dia harus
merasa bahwa dia bisa mencapainya sedikit demi sedikit sampai bisa
mencapai cita-citanya. Kalau seorang pelajar melakukannya, dia akan
menjadi perantara antara Allah dengan hamba-Nya dalam menyampaikan
syariat Islam ini, yang akan membawanya untuk mengikuti Al-Qur'an dan
As-Sunnah dengan berpaling dari semua pendapat akal manusia, kecuali
kalau bisa membantunya dalam mencapai kebenaran, seperti yang diucapkan
oleh para ulama, yang itu merupakan sebuah ilmu yang bisa menjadi pintu
bagi kita untuk mengetahui kebenaran. Karena, kalau tanpa ucapan-ucapan
mereka, kita tidak akan mampu mengambil hukum langsung dari nash-nash
yang ada, atau untuk mengetahui mana yang rajih (pendapat yang kuat) dan
mana yang marjuh (pendapat yang lemah) atau yang semisalnya.
Cita-cita yang tinggi akan
menghindarkanmu dari angan-angan dan perbuatan yang rendah dan akan
memangkas habis batang kehinaan darimu seperti sikap suka menjilat dan
basa-basi. Orang yang mempunyai cita-cita yang tinggi akan tegar, dia
tidak akan gentar menghadapi masa-masa sulit. Sebaliknya, orang yang
bercita-cita rendah akan menjadi penakut, pengecut, dan terbungkam
mulutnya hanya oleh sedikit kelelahan.
Namun, jangan salah persepsi, jangan
campuradukkan antara cita-cita yang tinggi dengan kesombongan. Karena,
antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat tajam, seperti perbedaan
antara langit dan bumi. Cita-cita yang tinggi adalah perhiasan para
ulama pewaris nabi, sedangkan kesombongan adalah penyakit orang-orang
yang sakit dari kalangan para diktator yang sebenarnya miskin hati.
Wahai para pelajar, canangkanlah pada
dirimu cita-cita yang tinggi, jangan berpaling darinya. Syariat kita
telah memberi isyarat akan hal itu pada banyak masalah fiqih yang engkau
jalani setiap hari, agar engkau selalu siap mendapatkannya. Misalnya,
dibolehkannya tayamum bagi mukallaf tatkala tidak ada air, dan dia tidak
diharuskan menerima hadiah sehingga air wudhu dari orang lain karena
itu akan membuat orang lain merasa berjasa padamu. Yang itu akan
merendahkan martabatmu. Dan perhatikanlah contoh-contoh lain yang
seperti ini. Wallaahu a'lam.
Termasuk cita-cita yang tinggi adalah
jangan sampai engkau mengharap milik orang lain. Karena, jika engkau
menginginkan kepunyaan orang lain, lalu mereka memberikannya kepadamu,
maka mereka akan memilikimu, karena perbuatan itu sebenarnya akan
mengikatmu. Seandainya ada seseorang yang memberimu satu keping uang,
maka tangannya akan lebih tinggi daripada tanganmu, sebagaimana
digambarkan dalam sebuah hadits: "Tangan yang di aas lebih baik daripada tangan yang di bawah." (HR Bukhari dan Muslim).
Tangan yang di atas adalah yang memberi,
sedangkan tangan yang di bawah adalah yang diberi. Jangan arahkan
pandanganmu, juga jangan ulurkan tanganmu untuk meminta kepunyaan orang
lain. Sampai-sampai kalau ada orang yang tidak memiliki air (untuk
wudhu) lalu ada yang memberinya, maka dia tidak harus menerimanya,
tetapi dia boleh bertayamum. Hal ini untuk menghindari jangan sampai dia
berhutang budi kepada orang lain. Padahal, wudhu dengan air itu hanya
wajib bagi yang mampu mendapatkan air saja. Oleh karena itu, para ulama
membedakan antara orang yang mendapatkan orang yang menjual air dengan
yang memberinya air, mereka mengatakan, "Kalau ada yang menjual air
kepadamu, maka kamu wajib membelinya, karena kalau kamu membelinya, maka
itu tidak berakibat engkau berhutang budi kepadanya, karena engkau
telah memberi harganya, namun jika ada yang memberimu, maka engkau tidak
wajib menerimanya, karena engkau akan berutang budi kepadanya, yang
akan mengikat dirimu. Akan tetapi, jika yang memberimu air itu tidak
meminta balas budi, bahkan mungkin dia berterima kasih kepadamu karena
engkau mau menerima pemberiannya, atau karena yang memberimu adalah
orang tertentu yang biasanya tidak harus membalas budi dalam
pemberiannya, seperti saudara kepada saudaranya, maka hukum itu tidak
berlaku karena sebabnya sudah hilang. Yang penting di sini bahwa
termasuk cita-cita yang tinggi adalah jangan sampai engkau menginginkan
kepunyaan orang lain.
sumber : http://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/akhlak/726-adab-dan-manfaat-menuntut-ilmu